Pizaro Gozali İdrus
22 April 2019•Update: 23 April 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Front Pembebasan Islam Moro (MILF) akan menonaktifkan sekitar 12.000 pasukannya pada 2019 menyusul otonomi Bangsamoro, lansir Inquirer pada Senin.
Penarikan ini adalah proses awal menonaktifkan 40.000 kombatan MILF guna mencapai proses perdamaian di Filipina Selatan.
Penasihat Perdamaian Presiden Filipina Carlito Galvez Jr mendesak keamanan, terutama polisi, untuk membangun hubungan baik dengan anggota MILF guna mewujudkan proses perdamaian Bangsamoro.
Galvez mengatakan sangat penting bagi polisi dan pasukan keamanan untuk memahami seluk-beluk proses perdamaian Bangsamoro di Filipina Selatan.
Dia mengatakan kesalahan sekecil apa pun dari keamanan Filipina dapat memiliki dampak besar pada perdamaian dan keamanan kawasan.
Agar inisiatif ini berhasil, Galvez menekankan pentingnya membina hubungan yang lebih kuat dengan MILF, terutama di antara para mantan pejuang.
Galvez mengatakan polisi regional Daerah Otonomi Bangsa Moro Muslim Mindanao (BARMM) akan memainkan peran penting dalam menjaga perdamaian, terutama di basis para pejung MILF yang dinonaktifkan.
Undang-Undang Organik Bangsamoro (BOL) secara resmi disahkan pada 25 Januari 2019 usai masyarakat Filipina selatan menggelar plebisit atau referendum.
Berdasarkan hasil penghitungan, sebanyak 1.540.017 orang memilih ‘ya’ untuk meratifikasi BOL. Sedangkan, 198.750 memilih ‘tidak’.
Artinya, sebanyak 88,5 persen pemegang hak suara menyetujui penerapan wilayah otonomi yang komprehensif kepada Muslim Moro dan mengakhiri konflik selama beberapa dekade dengan pemerintah Filipina.
Dalam pemerintahannya, BARMM akan memiliki sistem peradilan sendiri, otonomi dalam fiskal, dan cakupan wilayah yang lebih luas.