Pizaro Gozali Idrus
02 Oktober 2020•Update: 04 Oktober 2020
JAKARTA
Gabungan NGO di Malaysia mendesak Armenia dan Azerbaijan untuk mengakhiri ketegangan.
Presiden Majelis Syura Ormas-ormas Islam Malaysia (MAPIM) Mohd Azmi Abdul Hamid meminta konflik antara Azerbaijan dan Armenia atas wilayah Nagorno-Karabakh harus diselesaikan di meja internasional.
“Konflik berkepanjangan mengkhawatirkan masyarakat internasional karena ancamannya terhadap stabilitas di kawasan yang berfungsi sebagai koridor jalur pipa yang membawa minyak dan gas ke pasar dunia,” kat Azmi dalam pernyataannya pada Jumat.
Azmi mengatakan wilayah sengketa yang diperebutkan kedua negara harus dibawa ke pengadilan internasional untuk diputuskan berdasarkan bukti-bukti yang ada.
“Kami percaya pada negosiasi damai daripada konflik militer karena beban kehancuran oleh perang pada akhirnya akan menjadi tanggung jawab warga sipil,” kata dia.
Separatis Armenia dukungan Yerevan yang merebut wilayah Karabakh Atas, rumah bagi minoritas Azerbaijan, seharusnya tidak dibiarkan untuk memperburuk situasi.
“Kami menyerukan agar gencatan senjata yang ditengahi secara internasional pada 1994 dapat dibangun kembali,” kata Azmi.
Dia juga meminta pihak-pihak asing menghindari eskalasi konflik untuk mencegah perang lebih besar.
Bentrokan perbatasan meletus lagi pada Minggu pagi ketika pasukan Armenia menyerang pemukiman sipil dan pos militer Azerbaijan, yang menyebabkan korban jiwa.
Parlemen Azerbaijan mengumumkan keadaan perang di beberapa kota dan wilayahnya menyusul pelanggaran perbatasan dan serangan Armenia di Nagorno-Karabakh.
Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, atau Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.