Muhammad Latief
JAKARTA
Negara-negara ASEAN perlu menghilangkan hambatan non tarif (Non-Tariff Barriers /NTBs) dalam waktu cepat untuk mengurangi biaya perdagangan sebesar 10 persen pada 2020 dan menggandakan perdagangan intra-ASEAN pada 2025, ujar sebuah laporan dari Dewan Bisnis ASEAN dan Uni Eropa.
Laporan berjudul “Hambatan Non-Tarif ( NTB) di ASEAN dan penghapusannya dari perspektif bisnis” yang mengkaji sektor otomotif, pertanian dan makanan serta kesehatan ini menunjukkan bahwa meski ASEAN telah membuat kemajuan dalam menghapus tarif perdagangan intra-ASEAN, tetapi kebijakan non-tarif meningkat secara signifikan.
Donald Kanak, Ketua EU-ASEAN Business Council (EU-ABC) mengatakan mengurangi hambatan non-tarif ini akan mendorong perdagangan intra-ASEAN, meningkatkan inovasi, dan menciptakan perdagangan biaya rendah untuk bisnis dan konsumen.
“Juga harus menciptakan peluang perdagangan intra-ASEAN untuk usaha kecil menengah dan mikro,” ujar dia dalam siaran pers.
Penasihat Delegasi Uni Eropa di Thailand, Isabelle De Stobbeleir mengatakan Uni Eropa mendukung integrasi ekonomi ASEAN dan fasilitasi perdagangan regional.
Menurut dia, UE berusaha memfasilitasi dialog-dialog kebijakan UE-ASEAN di ketiga pilar bisnis ASEAN itu.
Direktur Eksekutif Dewan Bisnis UE-ASEAN, Chris Humphrey mengatakan ASEAN berisiko gagal memenuhi potensinya, kecuali ada tindakan yang lebih cepat dan proaktif untuk mengintegrasikan ekonominya sendiri.
Tahun ini, menandari 10 tahun ditandatanganinya Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN (ATIGA), namun beberapa elemen dari Perjanjian itu masih belum diimplementasikan.
“ASEAN masih jauh dari menjadi pasar tunggal dan basis produksi yang dipertimbangkan oleh MEA,”
“Ini berarti bahwa perdagangan intra-ASEAN tetap rendah, dan sangat tidak mungkin untuk mencapai tujuan menggandakan perdagangan intra-ASEAN pada tahun 2025 ditetapkan ketika Filipina menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2017. “
“Mengambil tindakan yang lebih cepat dan lebih jelas tentang penghapusan NTBs sangat penting untuk mencapai target tersebut, dan untuk meningkatkan kepercayaan bisnis dalam proses MEA. "
Menurut laporan tersebut negara-negara ASEAN kehilangan fokus dan upaya yang berkelanjutan serta ketat dalam mengurangi jumlah dan ruang lingkup hambatan non tarif.
“ASEAN tidak akan mencapai tujuan MEA dan akan gagal memenuhi target Cetak Biru 2025,”
“ Pertumbuhan juga tidak akan setinggi yang bisa dicapai negara-negara anggota dan banyak komitmen tidak akan terpenuhi."
news_share_descriptionsubscription_contact
