Regional

14 orang tewas dalam serangan aliansi etnis Myanmar

Serangan itu tak mempengaruhi gencatan senjata yang dilakukan sejak Desember lalu

Hayati Nupus  | 16.08.2019 - Update : 17.08.2019
14 orang tewas dalam serangan aliansi etnis Myanmar Ilustrasi: Aparat mengevakuasi korban. (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Hayati Nupus

JAKARTA

Setidaknya 14 orang tewas dalam serangan aliansi etnis Myanmar ke enam titik secara serentak.

Myanmar Times merincikan korban tewas itu terdiri dari polisi, tentara (Tatmadaw) dan warga sipil.

Serangan itu dilakukan oleh Aliansi Utara, yang terdiri dari Tentara Arakan (AA), Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang.

Serangan menargetkan Akademi Teknologi Layanan Pertahanan di Pyin Oo Lwin, Mandalay, pangkalan militer di Kota Nawngcho, Negara Bagian Shan, kantor polisi, pos pemeriksaan narkoba dan Jembatan Kembar Gote.

Anggota parlemen daerah untuk Pyin Oo Lwin, U Aung Min, mengatakan pada Kamis pukul 5 pagi waktu setempat Aliansi Utara menyerang pos pemeriksaan obat terlarang dan akademi menggunakan senjata berat, menewaskan satu orang dan melukai sejumlah lainnya.

“Karena akademi adalah fasilitas militer, kami tidak masuk. Tapi kami mendengar peluru artileri menghantam rumah pengawas. Seorang tentara terluka. Satu peluru lagi menewaskan seorang warga sipil,” ujar dia.

Di bukit sebelah timur akademi, aliansi menembakkan roket. Sementara militer menempatkan sejumlah penjaga di sekitarnya.

Serangan di Jembatan Kembar Gote di Nawngcho mengakibatkan penutupan jalur lalu lintas, juga menewaskan 12 orang, termasuk personel polisi dan militer, tutur U Than Zaw dari Kelompok Donor Darah Jantung Cherry, yang menjadi tim operasi penyelamatan.

“Semua korban tewas laki-laki, termasuk seorang sopir. Sisanya polisi dan Tatmadaw. Jembatan Kembar Gote ditutup karena bagian bawahnya miring. Bangunan dan mobil juga hancur,” urai dia.

Lewat pernyataannya, Aliansi Utara mengatakan bahwa itu merupakan serangan balasan karena Tatmadaw (militer) mengabaikan peringatan berulang agar berhenti menyerang AA.

Serangan itu, lanjut Aliansi Utara, dilakukan untuk mempertahankan diri.

Kantor berita militer True News mengatakan dalam serangan itu Aliansi Utara menggunakan senjata ringan dan berat, juga roket 107 milimeter.

Selain itu, militer juga menemukan enam roket yang digunakan aliansi di sebuah bukit di Pyin Oo Lwin-Lasho.

Juru bicara True News, Brigadir Jenderal Zaw Min Tun, mengatakan serangan itu tak akan mempengaruhi gencatan senjata.

“Proses perdamaian akan berlangsung. Gencatan senjata tak akan dibatalkan,” ujar dia.

Gencatan senjata secara sepihak itu berlaku sejak 21 Desember 2018 hingga akhir bulan ini.

Alasannya, ujar militer, AA telah merampas obat-obatan senilai K21 miliar pada Juli dan Agustus tahun lalu di Shan dan Rakhine.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın