Pizaro Gozali İdrus
27 Maret 2019•Update: 27 Maret 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Presiden Partai Keadilan Rakyat Anwar Ibrahim mengatakan keluarganya mendukung kepemimpinan Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri di tengah komentar pedas sang putri Nurul Izzah Anwar.
Anwar, yang disebut-sebut sebagai perdana menteri berikutnya, mengatakan langkah Mahathir untuk menggulingkan pemerintah sebelumnya dan menyelamatkan negara dari "perampokan" adalah kontribusi terbesarnya bagi negara.
"Keluarga saya dan saya akan memberikan dukungan terbaik kami kepada kepemimpinan Mahathir,” ujar Anwar.
Anwar menegaskan Mahathir bukan diktator yang bertolak belakang dengan pernyataan Nurul Izzah.
“Itu adalah pendirian kami yang konsisten. Kami mendukungnya sebagai perdana menteri," kata anggota parlemen federal Port Dickson ini.
Izzah, dalam sebuah wawancara dengan Straits Times, mengaku kesulitan bekerja dengan Mahathir, yang dia sebut sebagai "mantan diktator yang telah menimbulkan begitu banyak kerusakan."
Komentarnya itu mengundang kritik dari para loyalis Mahathir.
Namun Anwar, membela komentar Izzah dan mengatakan masalah ini diperbesar oleh Straits Times.
"Saya, tentu saja, mengerti dan prihatin (tentang masalah ini). Namun itu bukan ditujukan secara penuh untuk Mahathir, tapi juga diarahkan kepada para pimpinan lain yang menyuarakan pendapat mereka dan saling mengkritik,” kata Anwar.
Anwar menegaskan PH hari ini memiliki agenda yang fokus pada pemulihan ekonomi.
Menurut Anwar, PH kini sedang memberikan kesempatan kepada Mahathir untuk memimpin negara.
“Kami memberi ruang meski ini tidak berarti kami tidak memiliki perbedaan pendapat atau memberikan kritik,” kata Anwar.
Nurul Izzah menegaskan akan mengundurkan diri sebagai anggota parlemen usai menjalani masa jabatannya sekarang.
Nurul Izzah beralasan telah kehilangan kepercayaan pada koalisi Pakatan Harapan yang dipimpin Mahathir.
Dia juga mengatakan sulit bekerja sama dengan Mahathir akibat pemenjaraan Anwar pada tahun 1998 usai dipecat sebagai wakil perdana menteri oleh Perdana Menteri Mahathir saat itu.