Dunia

Anwar Ibrahim maafkan Najib Razak atas pemenjaraan dirinya

Anwar berharap proses hukum atas Razak berjalan adil

Muhammad Nazarudin Latief  | 04.07.2018 - Update : 05.07.2018
Anwar Ibrahim maafkan Najib Razak atas pemenjaraan dirinya Pemimpin 'Partai Keadilan Rakyat' Malaysia Anwar Ibrahim berbicara saat wawancara eksklusif pada 19 Juni 2018 di Istanbul, Turki. ( Serhat Çağdaş - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

Muhammad Latief

JAKARTA

Pimpinan Koalisi Pakatan Harapan, Anwar Ibrahim, mengaku telah memaafkan dan tidak menyimpan dendam pada mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang telah menjebloskannya ke penjara.

Anwar berbicara di depan para eksekutif Indonesia dalam acara yang digelar oleh Executive Centre for Global Leadership (ECGL) di Jakarta, Rabu. Anwar berbicara dalam forum ini dengan tema 'kepemimpinan politik'.

"Pemenjaraan saya selama 3,5 tahun atas putusan Najib, saya secara pribadi memaafkan beliau," ujar Anwar.

Keadaan berbalik, Najib kini sedang menghadapi kasus dugaan korupsi 1Malaysia Development Berhad atau 1MDB. Menurut Anwar, Najib harus meminta maaf pada seluruh rakyat Malaysia dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Kalau soal merampok hak rakyat, mencuri uang rakyat, menzalimi rakyat, itu bukan kuasa saya. Oleh karena ada pertuduhan itu, yang melibatkan beliau terhadap 1MDB, beliau harus bertanggung jawab di pengadilan."

Anwar juga bercerita tentang hubungannya dengan PM Malaysia yang kini menjabat, Mahathir Muhammad. Dia mengaku berselisih selama 20 tahun dengan perdana menteri yang kini berusia 92 tahun itu. Hingga kemudian memaafkannya.

Anwar bercerita, pada suatu kesempatan, mereka berdua bertemu. Mahathir kemudian berkata, “kita telah berselisih. Namun kini Malaysia membutuhkan kita, untuk mengganti penguasa yang korup.”

“Saya lanjut katakan ke Pak Mahathir, kini saya sudah memaafkan Anda. Ini demi negara, dan sekarang, saya berharap kita berdua bisa sukses demi Malaysia," kisah Anwar.

Lalu, lanjut dia, "Mahathir berkata, dulu saya seharusnya tidak penjarakan Anda.”

Memaafkan, kata Anwar, adalah salah satu kunci penting kepemimpinan politik.

Anwar Ibrahim mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Sungai Buloh, Malaysia, sejak Februari 2015 usai menerima vonis 5 tahun penjara atas kasus sodomi terhadap mantan asisten pribadinya.

Vonis itu dinilai kontroversial dan disebut sebagai upaya untuk mendiskreditkan Anwar Ibrahim dalam peta politik di Malaysia.

Dalam pidatonya, Anwar menggarisbawahi arti penting kepemimpinan politik. Menurut dia, pemimpin harus menjaga amanah dan bukan sekadar mencari perlakuan istimewa dari jabatannya.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın