Nicky Aulia Widadio
29 Maret 2019•Update: 29 Maret 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Sentani, Papua memasuki masa transisi darurat pada Sabtu, 30 Maret 2019.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Pemerintah Kabupaten Jayapura telah memutuskan masa tanggap darurat berakhir pada 29 Maret 2019.
Dia melanjutkan, proses pencarian korban yang masih hilang akan dihentikan pada masa transisi darurat.
BNPB mencatat sebanyak 82 orang masih berstatus hilang.
“Pencarian korban dihentikan ketika masuk masa transisi darurat, dalam hal ini sudah berkoordinasi bersama pihak keluarga dan pihak lainnya,” ujar Sutopo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Sutopo memperkirakan masa tanggap darurat akan berjalan selama satu hingga tiga bulan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat bencana dan penanganan lebih lanjut terhadap 5.347 orang pengungsi yang tersebar di 12 titik.
Pembangunan terhadap infrastruktur dan pemukiman akan dilakukan pada masa rekonstruksi setelah masa transisi darurat.
BNPB berencana merelokasi sejumlah pemukiman karena berada di lokasi rawan banjir bandang dan longsor dari arah lembah Pegunungan Cycloop.
Pemerintah daerah setempat masih mendata total pemukiman yang direlokasi.
“Sebagian warga sudah setuju untuk relokasi dan pemerintah daerah masih mencari lahan,” ujar Sutopo.
Selain itu, pemerintah juga berencana merehabilitasi hutan di Pegunungan Cycloop serta menormalisasi sungai-sungai yang terdampak limpahan longsor.
Menurut Sutopo, kondisi topografi di Pegunungan Cycloop tergolong rentan longsor.
Kondisi itu diperparah dengan perambahan cagar alam Pegunungan Cycloop oleh 43.030 jiwa sejak 2003.
Dia menuturkan ada 2.415 hektare lahan pemukiman dan lahan pertanian pada daerah tangkapan air.
Banjir bandang terjadi pada Sabtu, 16 Maret sekitar pukul 21.30 WIT dan menyebabkan 112 orang tewas, 961 orang luka-luka.