Erric Permana
31 Juli 2019•Update: 01 Agustus 2019
Erric Permana
JAKARTA
Pemerintah Indonesia mewacanakan mengundang rektor dari luar negeri untuk memimpin Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir berharap dengan adanya rektor dari luar negeri tersebut bisa membawa PTN masuk dalam urutan 100 perguruan tinggi terbaik di dunia.
“(Kita nanti tantang calon rektor luar negerinya) kamu bisa tidak tingkatkan ranking perguruan tinggi ini menjadi 200 besar dunia. Setelah itu tercapai, berikutnya 150 besar dunia. Setelah ini 100 besar dunia. Harus seperti itu. Kita tidak bisa targetnya item per item,” kata M. Nasir sebagaimana dikutip dari siaran pers Kemenristekdikti, pada Rabu.
Muhammad Nasir juga memastikan pemerintah akan menyediakan langsung anggaran untuk memberikan upah kepada rektor luar negeri ini tanpa mengurangi anggaran PTN tersebut.
Pemerintah lanjut dia menargetkan pada 2020 sudah ada perguruan tinggi yang dipimpin rektor terbaik dari luar negeri.
Malah rencananya pada 2024 mendatang akan ada lima PTN yang dipimpin oleh rektor asing.
“Kita baru petakan, mana [perguruan tinggi] yang paling siap, mana yang belum dan mana perguruan tinggi yang kita targetkan (rektornya) dari asing... Tahun 2020 harus kita mulai,” ungkap Menristekdikti.
--Butuh perbaikan peraturan
Menurut Menteri ada beberapa perbaikan peraturan yang diperlukan untuk dapat mengundang rektor dan dosen asing mengajar, meneliti, dan berkolaborasi di Indonesia.
“Saya laporkan kepada Bapak Presiden, ini ada regulasi yang perlu ditata ulang. Mulai dari Peraturan Pemerintahnya. Peraturan Menteri kan mengikuti Peraturan Pemerintah,” Namun, dia mengakui masih menunggu hasil kajian dari tim Kemenristekdikti mengenai kemungkinan PTN Badan Layanan Umum (PTN BLU) atau PTN Satuan Kerja (PTN Satker) dipimpin oleh rektor luar negeri dan ditempati dosen luar negeri.
“Perguruan Tinggi Negeri yang paling tidak sekarang posisinya Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, yang saya anggap paling mature, paling dewasa, tapi dimungkinkan juga di BLU, di Satker yang punya reputasi yang baik, bisa ke sana juga,” papar Menristekdikti.
Nasir juga mengatakan timnya saat ini sedang membahas kriteria apa yang diperlukan dari pemerintah agar PTN yang dipimpin rektor tersebut mampu mencapai 100 besar dunia.
“Saya sudah laporkan kepada Bapak Presiden dalam hal ini wacana untuk merekrut rektor asing ini, yang punya reputasi. Kalau yang tidak punya reputasi, jangan. Tidak mesti orang asing itu baik, belum tentu. Nanti kita cari,” ungkap Menteri Nasir.
Menristekdikti menyampaikan praktik rektor asing memimpin perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi publik di suatu negara lumrah dilakukan di luar negeri, terutama di negara-negara Eropa, bahkan Singapura.