Hayati Nupus
28 Februari 2019•Update: 28 Februari 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersiaga kebakaran hutan dan lahan tahun ini.
Kepala Subdit Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Radian Bagiyono mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tahun ini iklim di Indonesia lebih kering ketimbang tahun lalu.
“BMKG juga memprediksi adanya badai El Nino lemah Maret ini yang juga memicu kekeringan,” ujar Radian, Kamis, di Jakarta.
Radian menuturkan hampir 100 persen kebakaran hutan dan lahan terjadi karena ulah manusia, baik disengaja maupun tidak.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan mengirimkan surat imbauan ke sejumlah provinsi rawan bencana agar bersiaga.
Di antaranya, kata Radian, provinsi yang ada di Sumatera dan Kalimantan dengan lahan gambut yang mudah terbakar.
Tahun lalu, kata Radian, demi mengantisipasi terjadinya kebakaran saat perhelatan olah raga Asian Games, pemerintah bersiaga penuh dengan menurunkan personil sebelum kebakaran terjadi.
Pemerintah, lanjut Radian, juga mengantisipasinya dengan membasahi lahan gambut sebelum percikan api muncul.
“Berhasil, kebakaran hutan dan lahan dapat terkendali dengan baik, meski biayanya sangat mahal,” ujar Radian.
KLHK mencatat terdapat penurunan jumlah hutan dan lahan yang terbakar sepanjang 2015-2017.
Pada 2015 terdapat 2,6 juta hektar lahan yang terbakar. Jumlah ini menurun menjadi 438.000 hektar pada 2016 dan 165.000 hektar pada 2017.
Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada 2017 terlaksana dengan efektif.
Selain jumlah luasan terbakar menurun, lanjut Sutopo, jumlah titik panas dan penderita ISPA pun menurun.
Begitu pula dengan jarak pandang yang normal dan tak ada gangguan pada penerbangan.
Pada tahun itu kata Sutopo, terdapat enam provinsi yang menetapkan status siaga darurat. Tiap provinsi dan kabupaten membentuk satgas pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
BNPB mengerahkan 26 helikopter untuk bom air dan tiga pesawat Casa untuk memodifikasi cuaca.
Sedang pada 2015, lanjut Sutopo, pemerintah mengerahkan 32 unit pesawat dan pada 2016 sejumlah 16 pesawat.
World Bank mencatat kerugian Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 sebanyak USD16,1 juta. Jumlah ini bahkan dua kali lipat biaya pembangunan Aceh pasca tsunami 2004.