Erric Permana
11 Juni 2020•Update: 11 Juni 2020
JAKARTA
Indonesia meminta negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersatu dan memobilisasi kekuatan menolak rencana aneksasi wilayah Paestina oleh Israel.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi saat mengikuti Konferensi Tingka Menteri Luar Biasa (KTM-LB) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) secara vitual pada Rabu malam.
Konferensi vitual itu dipimpin Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.
Retno Marsudi menekankan rencana aneksasi di tengah pandemi Covid-19 melipatgandakan tekanan kepada Palestina, menghancurkan prospek perdamaian, dan mengancam stabilitas kawasan.
Dia menegaskan rencana aneksasi wilayah Palestina secara 'de-facto' dan formal tidak bisa dibenarkan.
Dia pun mengusulkan tiga langkah kepada negara anggota OKI terkait rencana itu.
"Pertama, jika Israel melanjutkan aneksasi secara formal, maka negara anggota OKI yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel diminta melakukan langkah diplomatik sesuai dengan berbagai Resolusi OKI," kata Retno Marsudi.
Kedua, Retno meminta negara OKI secara kolektif menggalang dukungan internasional menolak aneksasi Israel di berbagai forum internasional seperti Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB, dan Dewan HAM.
"Ketiga, mendorong dilanjutkannya negosiasi yang kredibel dan sesuai parameter yang disepakati secara internasional, untuk mencapai solusi dua negara, dimana Israel dan Palestina hidup berdampingan secara damai," tambah dia.
Sebelumnya, Indonesia juga telah menggalang dukungan internasional untuk Palestina, di antaranya melalui surat Menteri Luar Negeri RI kepada para menteri luar negeri negara anggota GNB, G-77, OKI, Uni Eropa, dan seluruh anggota Dewan Keamanan PBB yang memuat posisi tegas Indonesia menolak rencana aneksasi oleh Israel.