Iqbal Musyaffa
22 Juni 2020•Update: 22 Juni 2020
JAKARTA
Indonesia menghadapi banyak ancaman kesehatan, tidak hanya Covid-19, sehingga pada 2021 mendatang pemerintah akan fokus pada reformasi sosial sebagai strategi prioritas nasional.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan upaya pemantauan pasien terinfeksi Covid-19 Indonesia masih jauh tertinggal dari standar WHO.
“Kita seharusnya bisa mencapai 30 ribu per hari, tapi hari ini kita baru sampai di 11 ribu," ujar Menteri Suharso dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin.
"Presiden meminta paling tidak bisa sampai 20 ribu tes per hari.”
Selain itu jeda waktu antara pengambilan sampel dan hasil tes cukup lama, berkisar antara 2-3 hari hingga satu minggu.
Indonesia juga mempunyai penderita TBC ketiga terbesar di dunia sebanyak 900 ribu pasien dengan tingkat kematian 14-15 orang per jam.
“Jadi kalau ada orang gelisah karena tingkat kematian Covid-19, akan ada banyak lagi yang gelisah kalau tingkat kematian TBC diumumkan,” ungkap dia.
Menurut dia, Indonesia juga memiliki masalah malaria dan kembali menghadapi masalah penyakit kusta.
“Pada 80-an kita pernah memproklamasikan sebagai negara bebas kusta, tapi sekarang kita adalah negara [dengan kasus kusta] terbesar setelah Brazil dan India,” lanjut dia.
Menteri Suharso mengatakan pemerintah berharap secara bertahap bisa mengeliminasi kasus kusta di puluhan kota dan kabupaten, serta meningkatkan imunisasi warga untuk meningkatkan daya tahan.
“Kita juga sedang terkonsentrasi pada masalah stunting,” tambah Menteri Suharso.
Oleh karena itu, dia mengatakan mulai tahun depan program utama pemerintah adalah mempromosikan pencegahan dan ketahanan kesehatan warga sebagai hal yang paling penting.
“Kita juga akan mengembalikan fungsi Puskesmas yang sekarang ini lebih banyak kuratif [menyembuhkan],” lanjut dia.
Dia mengatakan seharusnya ada sembilan tenaga kesehatan di tiap Puskesmas, namun saat ini baru ada 39,1 persen tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas dan sebagian besar berada di Jawa.
Menteri Suharso juga mengakui bahwa rasio dokter dan tempat tidur yang ada di fasilitas kesehatan di Indonesia masih belum memadai.
Seperti terlihat pada awal penanganan Covid-19, hanya ada 14 rumah sakit rujukan nasional yang bisa dimanfaatkan untuk penanganan virus tersebut.
“Tapi sekarang sudah bisa di semua rumah sakit untuk penanganan Covid-19,” tambah Menteri Suharso.