Hayati Nupus
05 September 2019•Update: 06 September 2019
JAYAPURA
Warga Jayapura mulai beraktifitas. Sekolah dan kegiatan ekonomi mulai aktif lagi.
Pantauan Anadolu dari Jayapura, mulai hari ini sekolah-sekolah di Jayapura, Papua, kembali dibuka. Para siswa pun berduyun-duyun mengisi ruang kelas masing-masing.
Sebelumnya, selama sepekan sekolah-sekolah diliburkan untuk menghindari kerusuhan di daerah itu.
Jayapura tak lepas dari unjuk rasa yang digelar oleh masyarakat Papua untuk memprotes umpatan rasial terhadap mahasiswa asal Papua di Surabaya, Jawa Timur.
Bahkan di Jayapura, unjuk rasa tersebut berujung rusuh dan menimbulkan korban tewas. Data polisi, empat warga sipil tewas pasca-kerusuhan yang terjadi di ibu kota Provinsi Papua itu, pada Kamis lalu.
Aktifis para pelajar terlihat di Sekolah Menengah Pertama (SMP) YPK Santo Paulus Abepura, di Jl Raya Sentani, Abepura, Jayapura. Puluhan siswa datang sekolah dan beraktivitas seperti semula sejak pagi.
Selain itu sejumlah perbankan dan kantor swasta sudah kembali beroperasi sejak beberapa hari lalu.
Aktivitas perekonomian pun semakin hidup. Sejak Rabu, para pedagang di Pasar Mama-Mama Kota Jayapura kembali menggelar lapaknya.
Juga para pedagang di Distrik Abepura, Jayapura.
Salah satunya adalah David, 33 tahun, pedagang martabak asal Tegal, Jawa Tengah.
Di hari demonstrasi itu, saudaranya yang tinggal di Waena, Heram, mengabarkan bahwa unjuk rasa berlangsung anarkis. Saat itu, demonstran baru sampai Heram, belum sampai ke Abepura.
“Warga Waena sudah mengungsi, saudara saya meminta untuk tidak usah berjualan,” ujar David.
Di hari itu, Kamis lalu, tak hanya lapak martabak David yang tutup. Sederet toko di Abepura lebih memilih mengamankan diri.
Benar saja. Seusai demonstrasi, warga menyaksikan seisi toko kelontong di samping gerobak David biasa berjualan habis dijarah massa. Kulkas berisikan minuman dingin ludes. Sejumlah gerobak dibakar.
Meski gerobaknya tak turut terbakar, David menderita kerugian dengan aksi penjarahan itu.
Jika biasanya dia bisa mengantongi omset hingga Rp3 juta per hari, sejak adanya demonstrasi dia tak memperoleh pemasukan sama sekali.
“Sementara biaya hidup di sini mahal,” keluh David.
David baru membuka kembali gerobaknya Rabu kemarin.
Sementara Marlince, penjual tas rajut yang asli Papua, sudah kembali berjualan sejak sehari setelah demonstrasi.
“Kalau tidak berjualan, kami mau makan apa,” ujar dia.
David dan Marlince berharap Papua kembali aman. Tak ada lagi demonstrasi yang berujung ricuh dan mereka dapat berjualan dengan nyaman.