Muhammad Latief
JAKARTA
Presiden Joko Widodo dan pasangannya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 Ma’ruf Amin unggul pada sebagian besar kelompok masyarakat dibanding penantangnya Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, menurut penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Selasa.
Elektabilitas Jokowi dan Ma'ruf unggul mencapai 52,2 persen. Angka yang disebut LSI Denny JA sebagai magic number karena hampir sama dengan perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014 yaitu 53,15 persen. Sedangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno memperoleh dukungan sebanyak 29,5 persen.
“Masih ada yang belum menentukan pilihan sebanyak 18,3 persen,” ujar peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, dalam konferensi pers hasil survei “Pilpres 2019, Siapa Unggul? Pertarungan pada Enam Kantong Suara” di Jakarta.
Survei ini dilakukan pada 12 hingga 19 Agustus menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden.
Dari enam segmen yang disurvei, pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul pada lima segmen yaitu pemilih muslim, non muslim, kalangan bawah, perempuan dan pemilih milenial. Sedangkan Prabowo-Sandi hanya unggul pada pemilih kaum terpelajar.
Pada segmen muslim Jokowi-Ma’ruf mengantungi suara 52,7 persen sedangkan Prabowo-Sandi mendapatkan dukungan sebanyak 27,9 persen.
Pada kalangan non-muslim, Jokowi-Ma’ruf hanya unggul tipis yaitu 47,5 persen dibanding 43,6 persen yang diperoleh Prabowo-Sandi.
Untuk kalangan bawah yang sering diklaim sebagai basis utama Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), partai pengusung utama Jokowi-Ma’ruf, mereka meraih kemenangan telak, yaitu 54,7 persen dibanding 25,2 persen perolehan Prabowo-Sandi.
Berikutnya pada kelompok perempuan, Jokowi-Ma’ruf unggul 50,2 persen dibanding 30 persen perolehan Prabowo-Sandi.
Demikian juga di kelompok milenial atau mereka yang berusia di bawah 40 tahun, Jokowi-Ma’ruf unggul 50,8 persen dibanding 31,8 persen.
Pasangan Prabowo-Sandi unggul di kelompok terpelajar atau mereka yang pernah mengenyam pendidikan sarjana atau di atasnya, dengan perolehan 45,5 persen dibanding 40,4 persen. Ini adalah kelompok kecil namun mempunyai kemampuan menjadi influencer dan penggiring opini publik yang baik.
Menurut Adjie, pilihan Jokowi menjadikan Ma’ruf sebagai pasangannya membuah dukungan pada segmen muslim naik. Namun turun pada segmen non muslim, kaum terpelajar dan pemilih pemula.
Sebaliknya, Prabowo menuai keuntungan dengan memilih Sandiaga karena mendapat tambahan dukungan dari kelompok perempuan, pemilih pemula dan kaum terpelajar. Dengan penambahan angka dukungan rata-rata sekitar 5 hingga 7 persen.
Menurut Adjie, Ma’ruf amin unggul pada pemilih muslim namun kalah pada pemilih non-muslim. Unggul pada segmen kelas bawah hingga menengah, namun kalah pada segmen ekonomi atas.
Kyai Ma’ruf juga unggul pada segmen pemilih berpendidikan rendah hingga menengah, namun kalah dari Sandi pada segmen pendidikan tinggi. Ketua MUI ini juga unggul pada kelompok baby boomer (di atas 50 tahun) namun kalah pada kelompok pemilih pemula.
“Kyai Ma’ruf kalah populer dibanding Sandi yang mencapai 73,9 persen sementara Kyai Ma’ruf hanya 68,7 persen,” ujar Adjie.
Menurut Adjie, Pilpres masih berlangsung hingga delapan bulan ke depan sehingga masih cukup waktu bagi kedua pasangan untuk mempertahankan atau memperbesar dukungan.
Tanding ulang ini sebenarnya menyisakan pengalaman berharga bagi Jokowi. Saat Pilpres 2014, Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla rata-rata unggul dua digit di awal kompetisi, namun pada akhir kompetisi Prabowo-Hatta berhasil mendekatkan jarak elektabilitansnya meski tetap kalah.
“Jadi ini elektabilitas Jokowi yang kuat di awal Pilpres bisa dikejar oleh Prabowo, lawan yang sama pada pilpres lalu,” ujar dia.
Meredam isu identitas
Masuknya Ma’ruf dalam kontestasi kali ini diyakini bakal meredam serangan isu-isu identitas pada Jokowi seperti yang terjadi pada Pilpres 2014. Namun, belum tentu bisa menarik sentimen keumatan pasangan Jokowi-Ma’ruf karena hal ini sudah berhasil dimunculkan pasangan lawan pada Pilkada DKI dan Jawa Barat.
Menurut Adjie, tokoh-tokoh kunci politik seperti ini berada di luar ormas keagamaan, seperti Rizieq Shihab, Arifin Ilham, Bachtiar Nasir dan Abdulah Gymnastiar. Mereka adalah tokoh Islam yang tidak terlalu terkait erat dengan Maruf. Dukungan mereka akan berpengaruh pada penggunaan politik keumatan ini.
Menurut Adjie, setelah serangan identitas mereda, Jokowi akan menghadapi tantangan soal isu ekonomi. Lubang inilah yang tidak bisa ditutup oleh Ma’ruf Amin.
“Selama empat tahun isu ekonomi utama yang adalah lapangan kerja dan soal harga kebutuhan pokok yang mahal,” ujar dia.
Isu ini bahkan bisa dikaitkan dengan sentimen identitas, yaitu terkait sentimen tenaga kerja asing.
Faktor Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menurut Adjie bisa mendongkrak elektabilitas dengan meyakinkan pemilin non-muslim untuk tidak meninggalkan Jokowi-Ma’ruf.
“Tapi cara masuknya harus elegan. Jika tidak pemilih muslim akan lari,” ujar dia.
Sedangkan bagi pasangan Prabowo-Sandi, dukungan Rizieq Shihab menjadi penting karena akan menjadi amunisi serangan balik yaitu simbol adanya dukungan ulama. Rizieq sendiri hingga kini belum memberikan dukungan pada Prabowo setelah golongan ulama dikabarkan kecewa dengan pilihan cawapresnya.
“Dugaan saya, para ulama kelompok ini bisa saja akan ke Prabowo, momentumnya saja yang ditunggu. Mungkin saja last minute akan muncul dan itu akan menjadi titik balik Prabowo,” ujar dia.
Ketua DPP Partai Nasdem Willy Aditya mengatakan dinamika politik pada empat tahun belakangan akan membuat Pilpres 2019 berbeda dengan sebelumnya. Menurut dia, kampanye agresif dengan isu SARA tidak bisa lagi digunakan pada periode ini.
“Ini saatnya ada program dan kreativitas tim kampanye. Namun tetap yang membedakan Jokowi dengan Prabowo pada sudah berhasil dalam kerja dan baru menjanjikan,” ujar dia.
Menurut Willy yang juga Wakil Direktur Program Tim Pemenangan Jokowi, kinerja empat tahun ini membuat para “haters” berbalik mendukung.
Dalam soal ekonomi, Jokowi juga berhasil membuat fondasi yang cukup kuat, terutama berhasil membuat angka kemiskinan hanya satu digit. Selain itu, kinerja ekonomi Jokowi juga membuat PDB Indonesia masuk dalam USD1 triliun yang hanya bisa dicapai oleh 16 negara.
“Jadi soal ketahanan dan kerja ekonomi Jokowi cukup mumpuni di tengah situasi ekonomi global yang mengalami gejolak. Serangan untuk ini tertutup rapat,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
