Erric Permana
18 September 2017•Update: 19 September 2017
Erric Permana
JAKARTA
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta tiga kali lebih beresiko mengalami persoalan emosional seperti depresi dibandingkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Ini berdasarkan survei yang dilakukan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Cabang DKI Jakarta Nova Riyanti Yusuf bersama dengan Kementerian Kesehatan pada 2015 -2016.
Survei terhadap 1387 siswa di Jakarta Selatan menunjukkan bahwa siswa SMA berpotensi mengalami persoalan depresi sebanyak 16 persen, sementara siswa SMK berpotensi sebanyak 6 persen.
Salah satu penyebab siswa SMA depresi adalah aksi bully atau perundungan. Sementara siswa SMK mengalami depresi lantaran memperoleh stigma buruk tawuran dari masyarakat.
“Ada satu sekolah yang justru siswanya terbully karena mengumpulkan tugas tepat waktu,” ujar Nova di Jakarta.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa siswa perempuan 4 kali lipat berpotensi depresi dibandingkan siswa laki-laki.
“Murid perempuan mencapai 21,67 persen sementara murid laki-laki hanya mencapai sekitar 6,61 persen,” jelasnya.
Persoalan emosional picu bunuh diri
Sebelumnya, Nova juga meneliti sejauh mana keinginan bunuh diri terhadap 941 remaja usia 13-18 tahun di Jakarta Selatan pada 2015 – 2016.
Dari 193 anak yang mengalami persoalan emosional, 68 di antaranya ingin melakukan bunuh diri karena depresi. Sementara 107 dari 741 anak yang tidak mengalami masalah emosional atau normal cenderung ingin melakukan bunuh diri.
“Jadi bunuh diri bukan hanya karena gangguan jiwa tapi juga depresi,” ujarnya.
Hingga saat ini Indonesia belum memiliki alat untuk mendeteksi keinginan bunuh diri.
Nova berharap pemerintah memiliki instrumen atau aturan khusus untuk menekan keinginan bunuh diri, seperti di negara lain.