Chandni
21 Februari 2018•Update: 22 Februari 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Cara media Inggris menggambarkan Islam dan umat Muslim secara negatif semakin buruk dibandingkan tahun 2011, kata mantan wakil ketua Partai Konservatif Inggris dan anggota Dewan Bangsawan Britania Raya Sayeeda Warsi pada Selsa.
Di hadapan anggota dewan lainnya, Warsi menunjukkan bukti maraknya "kekerasan kebencian" dan juga mengatakan warga Inggris Muslim sering menjadi bulan-bulanan sejumlah media cetak.
"Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam menerangkan citra negatif yang dibentuk oleh pers," kata dia.
Wasi mengatakan berita-berita negatif yang "muncul setiap hari" itu seperti meracuni para pembaca.
Ketua dewan Serikat Nasional Jurnalis Chris Frost mengatakan isu ini sudah menjadi "masalah besar" sekarang. Dia juga membawa sejumlah bukti, di antara lain informasi mengenai bagaimana editor berita memerintah penulis menyusun berita yang memojokkan.
"Salah satu cara terbaik menggenjot penjualan koran adalah dengan menakut-nakuti pembaca. Karena Daesh, komunitas Muslim juga menjadi target," terangnya.
Frost mengatakan sebanyak 64 persen penduduk Inggris menerima informasi mengenai Islam dan umat Muslim dari media, serta tidak mencari keterangan lebih lanjut.
"Sangat penting bagi koran-koran untuk benar-benar mengerti masalah yang mereka bahas," lanjut Frost.
Warsi dan Frost juga mengatakan lembaga regulator pers Inggris Independent Press Standards Organization (IPSO) "tidak mampu" mengatasi aduan mengenai berita palsu yang diwarnai sentimen anti-Muslim.
Warsi menjelaskan di bawah pengawasan IPSO wartawan tidak bisa lagi bersikap homofobik, rasis dan anti-Yahudi, namun sentimen anti-Muslim itu dibiarkan lolos dan "makin parah dibandingkan 2011".
"IPSO membolehkan mereka melakukan diskriminasi terhadap suatu kelompok. Mereka harus meninjau ulang peran mereka," ujar Warsi.
Rasa takut
Kepada anggota dewan lainnya, Warsi mengatakan sering melihat perempuan-perempuan Muslim berhijab yang menghindari dari pinggiran rel kereta karena takut mereka dapat didorong jatuh oleh oknum tertentu.
"Ini sudah 2018, saya tidak tahu mengapa kita masih memperdebatkan pemakaian hijab," tegur Warsi.
Sedangkan Frost mengatakan maraknya pemberitaan negatif mengenai umat Muslim oleh media cetak bagai memberi angin untuk penulis-penulis blog.
"Khususnya media tabloid, mereka sengaja memilih berita tertentu karena sensasional dan bisa menjual," kata Frost.
Keduanya juga memperlihatkan bagaimana sejumlah berita anti-Muslim yang tampil online di sejumlah situs berita seperti Daily Mail, langsung disorot oleh figur-figur sayap kanan sehingga menjadi viral.
Warsi mendesak agar perdana menteri dan pemimpin partai oposisi segera menggelar pidato untuk menjelaskan kontribusi besar umat Muslim di Inggris.