Hayati Nupus
JAKARTA
Sebanyak 274 wilayah di Indonesia rawan longsor, ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pada Kamis.
Wilayah itu tersebar di sepanjang Bukit Barisan Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Sepanjang tahun 2017, sebanyak 40,9 juta jiwa terpapar bahaya longsor, kata Sutopo,
”Umumnya mereka tinggal di daerah dengan infrastruktur terbatas, sehingga saat terjadi longsor, evakuasi terkendala medan.”
Di tahun 2017, tiga provinsi di Indonesia menjadi wilayah dengan jumlah longsor tertinggi, yaitu Jawa Tengah 195 kasus, Jawa Barat 107 kasus dan Jawa Timur 97 kasus.
Sementara untuk tingkat kabupaten/kota, wilayah dengan jumlah longsor tertinggi adalah Bogor sebanyak 151 kasus, Wonogiri 139 kasus, sedang Cilacap dan Sukabumi masing-masing 125 kasus.
Longsor merupakan bencana paling mematikan selama 2014-2016. Sebanyak 2.312 orang meninggal akibat longsor dalam 13 tahun terakhir.
Oleh karena itu revisi tata ruang harus dilakukan, sesuai amanat pasal 1 Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang menyebutkan bahwa tata ruang wilayah harus memperhatikan peta rawan bencana.
“Selama tata ruang tidak diterapkan Pemda, longsor akan terus mengancam, ini seperti bom waktu,” kata dia.
Sutopo memetakan perlunya strategi struktural dan non struktural untuk menyelesaikan persoalan longsor. Dari sisi struktural, pemerintah bisa memperkuat lereng dengan kemiringan tajam dan memasang sistem peringatan dini. sementara dari strategi non struktural, pemerintah perlu memassifkan sosialisasi dan pendidikan sadar bencana.
Hingga 22 Oktober tahun ini, terdapat 1860 kejadian bencana di Indonesia, dengan bencana terbanyak banjir, longsor dan puting beliung.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia rutin mengeluarkan potensi bahaya longsor per provinsi tiap bulannya.
“Sistem peringatan dini banjir dan longsor serta aplikasi pemantauan bajir telah diaktifkan, BPBD setempat siaga jika terjadi bencana,” kata dia.
Musim hujan rawan banjir
Memasuki musim penghujan, Indonesia tak hanya rawan longsor, tapi juga banjir. Sebanyak 38,3 persen wilayah Indonesia memasuki musim penghujan pada Oktober, lainnya November sebanyak 37,7 persen dan sisanya Desember.
Puncak hujan diperkirakan akan terjadi pada Januari. “Puncak kejadian bencana juga diperkirakan pada Januari, dengan adanya banjir, longsor dan puting beliung,” kata Sutopo.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan 2017/2018 berlangsung normal, tanpa fenomena La Nina yang mengakibatkan hujan melimpah atau El Nino yang mengakibatkan hujan sedikit. Namun musim hujan kali ini diperkirakan lebih pendek dengan intensitas tinggi.
Sebanyak 2.214 orang di Indonesia meninggal akibat banjir dalam tiga tahun terakhir, kata Sutopo.
Di Jakarta, dari 267 kelurahan, sebanyak 125 di antaranya atau 46,8 persen rawan banjir. Jika dulu wilayah banjir banyak terjadi di Menteng Pulo, tahun ini banjir akan banyak menggenang Kemang.
Sebagian besar kota di Indonesia, kata Sutopo, berkembang di dataran berpotensi banjir atau dekat sungai. Jutaan penduduk menempati wilayah ruang terbuka hijau itu.
Sungai Ciliwung misalnya, hanya memiliki lebar 10 meter, sementara idealnya selebar 30 meter.
Evakuasi bencana dan normalisasasi sungai menghabiskan dana besar, begitu pula relokasi penduduk yang terlanjur puluhan tahun tinggal di pinggir sungai.
“Kalau ribuan rumah harus digusur, pasti konflik. Daerah yang belum terjadi seperti ini hendaknya belajar dari pengalaman Jakarta,” kata Sutopo.