Shenny Fierdha Chumaira
21 November 2017•Update: 22 November 2017
Shenny Fierdha Chumaira
JAKARTA
Sekitar 150 warga asli Papua yang menghuni Desa Kimbely dan Desa Banti, Papua, sampai saat ini belum dievakuasi oleh aparat gabungan polisi dan Tentara Nasional Indonesia atau TNI.
"Sementara ini, 150 orang itu masih memilih untuk bertahan di desanya masing-masing," kata Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Ajun Komisaris Besar Suryadi Diaz saat dihubungi oleh Anadolu Agency lewat sambungan telepon pada Selasa.
Mengenai kapan 150 warga asli itu akan dievakuasi, Suryadi tidak dapat memastikan sebab menurutnya itu tergantung pada 150 warga tersebut, apakah mereka mau dievakuasi atau tidak.
"Alasan mereka untuk tetap bertahan di desa ialah karena mereka memang tinggal di sana, mata pencaharian juga di sana," kata Suryadi.
Meski warga sejauh ini belum mau dievakuasi, namun Suryadi mengatakan bahwa aparat gabungan polisi-TNI tetap siap untuk melakukan evakuasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Warga asli Papua yang berjumlah 150 orang tersebut merupakan sisa dari 1.300 warga Papua dan non-Papua yang sempat disandera oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) selama seminggu lebih.
Sampai Senin malam, aparat gabungan polisi-TNI telah berhasil mengevakuasi 1.148 warga asli Papua dan non-Papua melalui proses evakuasi yang dilakukan secara bertahap.
Ketika evakuasi pertama dilakukan pada Jumat pekan lalu (17/11), aparat berhasil mengevakuasi 344 warga non-Papua dari kedua desa dan sebagian di antaranya sudah kembali ke kampung halaman masing-masing.
Sementara itu, aparat berhasil mengevakuasi 804 warga asli Papua pada Senin dan mereka selanjutnya ditampung di Gedung Eme Neme Yauware, Tembagapura.
Sejak awal November, KKB yang diduga beranggotakan 25-30 orang dan berbekal 5-10 pucuk senjata api itu telah menyandera 1.300 warga Desa Banti dan Desa Kimbely. Para pria dilarang bepergian keluar desa sementara wanita diperbolehkan keluar desa untuk membeli bahan makanan.