Hayati Nupus
02 Mei 2018•Update: 02 Mei 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Pakar perubahan iklim dunia menekankan pentingnya pembangunan big data ilmiah untuk memitigasi perubahan iklim.
Vice Chair Working Group I Inter-govermental Panel on Climate Change (IPCC) Edvin Aldrian mengatakan ada banyak data terserak di gawai maupun media sosial. Data ini bisa menjadi bahan verifikasi pihak terkait untuk menciptakan data ilmiah sebagai big data.
“Datanya sudah tersedia banyak, tinggal dikompilasikan, malah bisa sampai server to server,” ujar Edvin, dalam diskusi Pojok Iklim: Tanggap Darurat Bencana Iklim, Rabu, di Jakarta.
Saat ini, ungkap Edvin, tren dunia mengarah pada era big data. Sejauh ini pemiliknya adalah pengelola aplikasi dan media sosial. Data itu di antaranya berupa suhu suatu wilayah, atau jadwal musim tanam cabai di Brebes yang diunggah pengguna di media sosial.
Selain di media sosial, kata Edvin, data itu juga tersedia di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan satelit LAPAN.
“Indonesia merupakan laboratorium bencana. Sepanjang tahun beragam bentuk bencana terjadi di sini, ada banyak data tersedia,” kata Edvin.
Persoalannya, ujar Edvin, ego sektoral di pemerintah Indonesia masih tinggi. Masing-masing lembaga berjalan sendiri.
“Perlu kebijakan di tingkat presiden,” kata Edvin.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan perlu proses validasi dan verifikasi terlebih dahulu sebelum menggunakan data yang tersedia di media sosial.
Kuncinya, kata Herizal, bagaimana menerjemahkan informasi di media sosial menjadi hasil studi ilmiah, terangkum dalam big data yang dapat digunakan lembaga manapun. Juga dapat menjadi bahan upaya preventif bencana iklim.
Saat ini, BMKG tengah membangun sistem big data yang mengintegrasikan data perubahan iklim di seantero nusantara.
“Perlu sistem dan teknologi peralatan jaringan komunikasi, sementara ada kesenjangan antara wilayah timur dan barat Indoensia,” papar Herizal.