Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 Agustus 2018•Update: 04 Agustus 2018
Mahmut Atanur
COTABATO, Filipina
Pemuda Muslim Moro dari Filipina meminta komunitas internasional, terutama Turki, untuk bantuan pendidikan guna membantu pembangunan daerah.
Para siswa di wilayah itu menyambut baik pengesahan UU Organik Bangsamoro oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada akhir Juli, menyebutnya sebagai era baru pemerintahan otonom.
UU tersebut dibuat untuk meningkatkan pendapatan hukum dan ekonomi Muslim di wilayah tersebut, memberikan otonomi yang lebih besar kepada mereka yang tinggal di pulau-pulau di sekitar Mindanao, yang memiliki populasi Muslim yang besar.
Kepada Anadolu Agency, Hamira Almuna, mahasiswa administrasi publik di Bangsamoro mengatakan bahwa kaum muda perlu berkontribusi pada pembangunan daerah, oleh karena itu pendidikan memainkan peran penting.
"Kami mengharapkan dukungan pendidikan dari negara-negara asing, terutama negara-negara yang berkontribusi pada proses perdamaian. Daerah kami membutuhkan tenaga kerja di berbagai bidang seperti kedokteran, pendidikan dan ilmu politik," katanya.
Almuna mengatakan bahwa dukungan pendidikan terutama diharapkan dari Turki yang telah memainkan peran penting dalam membangun pemerintahan otonom di wilayah tersebut.
Datu Abdulsettal Zailon, yang menyelesaikan gelar masternya di bidang kesehatan masyarakat dari Universitas Ege di Turki mengatakan bahwa dengan disetujuinya UU Organik Bangsamoro, wilayah itu telah memasuki sebuah perjuangan baru.
"Di era baru ini kita akan membutuhkan orang-orang yang terdidik di Bangsamoro," katanya.
Zailon juga mengatakan bahwa dokter, insinyur dan ahli di bidang teknis lainnya diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan sosial Bangsamoro.
"Kami mengharapkan beasiswa dari Turki dan saudara-saudari dari seluruh dunia," tambahnya.
"Pendidikan adalah salah satu kunci utama untuk sukses dan pemuda adalah tulang punggung masyarakat," Ashleynur Alan, mahasiswa lain mengatakan.
"Untuk alasan ini kami akan berperan dalam keberhasilan Bangsamoro. Anak-anak muda kita harus lebih mementingkan pendidikan dan generasi masa depan harus lebih berpendidikan," tambahnya.
Omar Ashraf, yang menempuh program masternya di Universitas Anadolu Turki, mengatakan bahwa tingkat pendidikan di wilayah itu rendah.
"Daripada membawa orang-orang yang berpendidikan dari negara-negara asing ke kota-kota kami, akan lebih sehat dalam jangka panjang untuk mendidik dan fokus pada siswa lokal," katanya.
Lebih dari 120 ribu orang kehilangan nyawa dan 2 juta orang menjadi pengungsi dalam lebih dari 40 tahun konflik antara pemerintah dan Moro.