23 Oktober 2017•Update: 23 Oktober 2017
Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan meminta evaluasi menyeluruh terhadap penanganan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung, Bali, Senin.
Luhut meminta jajaran kementerian atau lembaga pemerintah terkait soal ini agar mengkaji apakah mungkin mengurangi radius daerah rawan bencana, sehingga warga bisa kembali ke rumahnya masing-masing.
“Apakah bisa per desa ini boleh maju (radius bahaya), tapi tentu dengan sistem early warning yang bagus,” kata dia.
Menurut Luhut, selama lebih dari satu bulan status “awas” Gunung Agung telah membuat aktivitas ekonomi warga berantakan. Mereka harus mengungsi ke tempat aman dengan radius 9 kilometer (km) dari kawah, dan 12 km di sektor utara - timur laut dan tenggara - selatan - barat daya.
Selama dalam pengungsian, aktivitas ekonomi mereka tidak maksimal. Selain itu, peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung bisa membawa dampak buruk bagi pariwisata Bali.
Keputusan soal Gunung Agung, ini akan diambil berhati-bati karena menyangkut nasib banyak orang. Kapolda Bali dan Pangdam Udayana, menurut Menteri Luhut sudah sepakat untuk mengevaluasi status ini.
“Jangan dibiarkan ekonomi mati, statusnya kita lihat lagi,” ujar dia.
Menurut Menteri Luhut, aktivitas Gunung Agung sudah mulai turun. Gempat tektonik dalam maupun dangkal sudah berkurang.
Pusat Vulkanologi dan Migatasi Bencana Geologi (PVMBG) memang memantau aktivitas kegempaan gunung ini makin menurun jika dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya. Namun data deformasi masih menunjukkan sebaliknya, yakni deformasi masih mengalami inflasi artinya saat ini belum waktunya yang tepat untuk menurunkan status Gunung Agung menjadi “siaga”.
Kepala PVMBG Kasbani mengatakan untuk menurunkan atau menaikkan status gunung berapi tidak hanya menggunakan data sesaat tetapi harus dilihat secara menyeluruh.
“Harus menggunakan data-data yang komprehensif dan menyeluruh yang meliputi data seismik, deformasi, geokimia dan penginderaan jauh satelit," imbuh dia.