Erric Permana
28 Oktober 2018•Update: 28 Oktober 2018
Erric Permana
JAKARTA
Sebanyak 1.335 Prajurit TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) ditarik dari Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah setelah bertugas selama satu bulan di sana.
Hal tersebut dikatakan Panglima Kogasgabpad Mayjen TNI Tri Soewandono saat melepas keberangkatan pasukan dari Divisi Infanteri 3/Kostrad menuju Makassar, dengan menggunakan KRI Makassar 590 melalui Pelabuhan Laut Pantoloan, Kota Palu, Sulteng, pada Sabtu.
Panglima Kogasgabpad Mayjen TNI Tri Soewandono menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Prajurit TNI dari jajaran Divisi Infanteri 3/Kostrad yang telah menunjukkan kehebatan, semangat dan tidak ada pelanggaran dalam melaksanakan tugas membantu warga korban bencana gempa bumi dan tsunami di Sulteng.
Menteri Kordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam) Wiranto saat menggelar konferensi pers di Palu pada Jumat mengatakan bahwa keputusan Masa Tanggap Darurat Penanganan Bencana Alam di Sulawesi Tengah berakhir melalui Surat Keputusan Gubernur Sulteng No. 466/425/BPBD/2018.
Dengan demikian maka personil TNI akan berangsur ditarik kembali.
Menkopolhukam menyatakan bahwa Pasukan TNI yang akan ditarik adalah pasukan yang pertama datang, yaitu prajurit Kostrad dari Makassar, karena saat itu sangat dibutuhkan untuk pengamanan dari penjarahan serta untuk penyelamatan dan pencarian korban serta evakuasi.
“Pekerjaan-pekerjaan tersebut saat ini sudah tidak ada lagi. Selanjutnya mereka diperbantukan untuk mendirikan shelter-shelter pengungsian dan membantu mengkoordinir kebutuhan dasar di pengungsian,” ujarnya.
Mengenai kekhawatiran adanya penjarahan, Wiranto memastikan saat ini ketersediaan bahan makanan serta air bersih sudah pulih sehingga tidak ada alasan untuk adanya kasus penjarahan terjadi kembali.