Iqbal Musyaffa
25 Oktober 2017•Update: 25 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah Indonesia melalui kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) kembali melanjutkan uji coba penggunaan aspal campuran limbah plastik di jalan Dakota akses Bandara Lama, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sepanjang 100 meter.
Sebelumnya, uji coba serupa sudah dilakukan di Bali dan Bekasi dan selanjutnya juga akan dilakukan di rest area jalan tol Tangerang-Merak dan Depok.
"Kami bersama Kemenko Kemaritiman terus mendorong dan mengawal pemanfaatan limbah plastik sebagai campuran aspal. Termasuk melibatkan Kementerian Perindustrian dan SMK untuk pengembangan mesin pencacahnya," ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono Rabu dalam siaran persnya.
Dengan hadirnya teknologi aspal plastik, Basuki mengharapkan dapat mereduksi sampah plastik sekaligus dapat menarik manfaat ekonomi untuk dijadikan bahan campuran aspal.
Sebelum dilakukan uji coba penghamparan aspal, Basuki mengatakan telah lebih dulu dilakukan sosialisasi proses pencampuran aspal bercampur limbah plastik di Asphalt Mixing Plant (AMP) yang terletak di Maros.
Pencampuran material tersebut tidak memerlukan penggunaan teknologi khusus dan alat baru, sehingga dapat dilakukan oleh perusahaan AMP manapun.
Kepala Puslitbang Jalan dan Jembatan kementerian PUPR Deded P. Syamsudin mengatakan komposisi limbah plastik kresek yang digunakan sebagai bahan campuran aspal dilakukan dengan komposisi 6 persen.
Menurut dia, campuran limbah plastik tersebut tidak boleh melebihi kadar 6 persen, sebab dapat berpengaruh pada kualitas aspal menjadi mudah retak.
"Plastik dengan takaran pas dapat meningkatkan kinerja aspal terhadap air sehingga tahan retak. Aspal dengan campuran plastik juga aman terhadap panas dan tidak mudah meleleh,” urai dia.
Berdasarkan hasil uji laboratorium tahun 2017 oleh Pusat Litbang Jalan Kementerian PUPR, Deded menjelaskan campuran beraspal panas dengan tambahan limbah plastik menunjukkan peningkatan nilai stabilitas Marshall 40 persen dan lebih tahan terhadap deformasi dan retak lelah dibandingkan dengan campuran beraspal panas standar.
“Penggunaan limbah plastik juga sama sekali tidak mengurangi kualitas jalan, bahkan justru bisa menambah kerekatan jalan,” tegas dia.