25 Juli 2017•Update: 25 Juli 2017
Roy Ramos
ZAMBOANGA CITY, Philippines
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengejutkan demonstran diluar gedung Kongres pada Senin malam setelah ia memberikan pidato State of the Nation selama 2 jam.
“Kalian boleh meneriaki dan meremehkan saya tapi ini terakhir kalinya saya akan berbicara dengan kalian,” kata Duterte yang dikelilingi pasukan pengamanan kepresidenan sembari berbicara selama 10 menit.
Dengan slogan “kami ingin kedamaian”, demonstran menuntut kelanjutan dialog perdamaian antara pemerintahan Filipina dan Partai Komunis Filipina – Pasukan Rakyat Baru – Front Demokrat Nasional (CPP-NPA-NDF). Dialog antara pemerintah dan CPP seharusnya dilakukan pada Juli namun dibatalkan menyusul sejumlah serangan oleh pemberontak.
Sebelumnya, dialog itu juga ditunda pada Mei setelah Duterte memberlakukan darurat militer di pulau Mindanao menyusul krisis Marawi.
Duterte mengatakan dirinya adalah “presiden beraliran kiri pertama di Filipina” namun mengkritisi pemberontak komunis dalam pidato kebangsaannya, menunjuk khususnya pada serangan faksi bersenjata NPA terhadap konvoi kepresidenan pekan lalu.
“Mari kita hormati satu sama lain,” kata Duterte menghimbau demonstran agar tidak menyerangnya karena dia tidak bisa berbicara dengan mereka bila tewas.
Duterte juga menjelaskan kondisi darurat militer di Mindanao tidak akan selamanya dan hanya diperpanjang hingga akhir tahun untuk menyergap teroris Maute di Marawi.
Kepala kepolisian Guillermo Eleazar mengatakan menjaga lokasi pidato Duterte merupakan “mimpi buruk pasukan keamanan”, lapor media setempat.
Namun Eleazar juga mengatakan acaranya berlangsung “damai” dan ia tidak menahan siapapun.