Hayati Nupus
JAKARTA
Jumlah titik panas kebakaran hutan dan lahan terus meningkat menjjadi 538, status siaga darurat kini bertambah menjadi 6 provinsi.
Juli lalu, status siaga darurat ditetapkan hanya pada 5 provinsi saja. Yaitu. Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Kini status yang sama juga ditetapkan untuk Kalimantan Tengah.
Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengerahkan 21 unit helikopter untuk melakukan hujan buatan dan pemadaman dari udara (water bombing). Helicopter tersebut ditempatkan di 6 provinsi dengan status siaga darurat, yaitu 6 unit di Riau, 5 di Sumatera Selatan, 3 di Jambi dan 5 di Kalimantan Barat. Sementara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan menggunakan masing-masing 1 helikopter.
Bersama BPPT, BNPB melancarkan hujan buatan sejak Juli lalu hingga kini menggunakan pesawat Casa 212 di Riau dan Sumatera Selatan.
“Ratusan ton garam telah ditaburkan ke dalam awan-awan potensial untuk menurunkan hujan,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Selasa.
Selain itu, Gubernur Aceh menetapkan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Aceh Barat. Penetapan siaga darurat ini berlaku hingga 30 September 2017.
Di Papua, kebakaran hutan dan lahan terkonsentrasi di Kabupaten Merauke. Diduga titik panas ini muncul dengan adanya pembukaan kebun besar-besaran. “Pantauan satelit menujukkan lokasi-lokasi hotspot berada pada bentang lahan yang terstruktur, rapi dan dalam area yang luas,” ujar Sutopo.
Meski jumlah titik panas dan status siaga darurat meningkat, ujar Sutopo, penanganan karhutla menunjukan kemajuan dan jumlah luas lahan terbakar menurun. Tahun 2015 sebanyak 2,61 juta hektare hutan dan lahan terbakar. Jumlah itu menurun menjadi 438 ribu hektare pada 2016 dan 20 ribuan hektare pada 2017.