İqbal Musyaffa
21 November 2018•Update: 22 November 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno menargetkan dalam waktu 3 tahun ke depan jumlah usaha rintisan (start up) yang masuk ke dalam kategori unicorn bertambah dari 4 menjadi 10.
Dalam Indonesia Economic Forum di Jakarta, Rabu, Sandiaga mengatakan target tersebut bisa dicapai dengan membangun gaung dari ekosistem digital yang bisa memberikan multiplier effect sehingga bisa menambah jumlah wirausaha dengan ide-ide baru.
“Kalau kita bisa hadirkan regulatory framework sebuah kebijakan untuk mempermudah start up tumbuh, sangat memungkinkan start up unicorn bertambah,” jelas dia.
Sandiaga mengatakan 4 start up unicorn yang ada saat ini lahir di tengah masih minim sentuhan dari pemerintah. Apabila pemerintah lebih membantu, maka jumlah start up unicorn akan meningkat.
Start up unicorn adalah usaha rintisan yang memiliki valuasi lebih dari USD1 miliar atau sekitar Rp15 triliun. Untuk bisa mencapai target tersebut, dia menilai perlu adanya kemudahan perizinan yang masih menjadi PR dari pemerintahan saat ini.
“Kita juga ingin memberikan pelatihan dan pendampingan agar mereka memiliki skill site yang tepat,” jelas dia.
Untuk pendampingan tersebut, Sandiaga mengatakan perlu melibatkan pengusaha yang lebih sukses serta pemerintah untuk memfasilitasi. Pelatihan tersebut terdiri dari 3 tahapan, basic, advance, dan pelatihan network untuk untuk meminimalisasi jumlah start up yang gagal.
Kemitraan dalam pengembangan start up, imbuh dia, menjadi sangat penting karena saat ini adalah era kolaborasi, tidak lagi kompetisi.
Sandiaga meyakini start up akan tumbuh berkembang melalui kolaborasi.
Dia mengatakan, pemerintah perlu memperkuat pendekatan sandbox seperti yang sudah dilakukan untuk start up financial technology (fintech) untuk membuat koridor yang jelas melalui keleluasaan dan fleksibilitas kepada start up.
Selama ini, Sandiaga menilai pemerintah selalu tertinggal dari segi regulasi dan inovasi dengan start up.
“Kalau dibuat ekosistem yang pemerintah hadir dalam konsep kemitraan, kita harus memastikan start up tidak keluar dari koridor sandbox,” ujar Sandiaga.
Kemudian dia menambahkan pada akhirnya pemerintah bisa menghadirkan kepastian regulasi dan kemampuan start up untuk bertahan dan masuk ke tahap skill level.
Setelah itu, pemerintah, menurut dia, dapat juga membentuk akses permodalan kepada start up dalam bentuk pinjaman ataupun kemitraan.
“Nantinya ada angel investor yang bisa dikerahkan pemerintah untuk menurunkan risiko start up dan mempermudah start up mendapatkan akses permodalan dari angel investor,” urai dia.
Para investor tersebut imbuh dia, dapat dikumpulkan melalui kerja sama dengan platform serta melalui kurasi untuk membantu investor memilih start up yang potensial untuk dibiayai.