Iqbal Musyaffa
25 Agustus 2020•Update: 25 Agustus 2020
JAKARTA
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan sore ini ditutup menguat 21 poin di level Rp14.649 per dolar AS dibanding penutupan pada kemarin yang berada di level Rp14.670.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan besok mata uang rupiah kemungkinan masih akan menguat tipis antara 10-25 point pada rentang Rp14.610-14.680.
Menurut Ibrahim mengatakan rupiah tetap menguat meskipun pada akhirnya pemerintah memproyeksi skenario terburuk pertumbuhan ekonomi pada kisaran 0 persen sampai minus 2 persen pada kuartal ketiga.
Dengan demikian, menurut pemerintah kemungkinan Indonesia akan masuk jurang resesi setelah pada kuartal kedua tumbuh minus 5,32 persen.
“Aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha yang mulai pulih sejak Juni 2020 rupanya belum cukup kuat untuk berlanjut pada kuartal ketiga,” ujar Ibrahim dalam siaran pers, Selasa.
Selain itu, beberapa sektor usaha yang sebelumnya sudah berjalan positif, justru kembali negatif seperti pada masa PSBB diberlakukan.
Selain itu pandemi virus korona yang terus meningkat khususnya di Jakarta membuat tingkat konsumsi masyarakat tetap lemah meski sudah menyalurkan Bansos dan BLT, ujar dia.
Menurut dia, stimulus pemerintah seperti bantuan dana hibah untuk UKM, subsidi karyawan bergaji di bawah Rp5 juta dan pengajar honorer, serta tunjangan kesehatan untuk dokter dan perawat belum bisa membantu pemulihan ekonomi karena pertumbuhan investasi yang stagnan. "
"Bukan bukan Indonesia saja yang masuk resesi, hampir semua negara terkena dampak resesi,” jelas Ibrahim.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar mendapat dorongan dari pengumuman Moderna, sebuah perusahaan bioteknologi berbasis di Cambridge, yang sedang dalam pembicaraan dengan Komisi Eropa untuk memasok 80 juta dosis mRNA-1273 sebagai vaksin Covid-19.
“Komisi Eropa ingin mengamankan akses awal ke vaksin Covid-19 yang aman dan efektif untuk Eropa,” ujar Ibrahim.
Saat ini, kata Ibrahim perhatian dunia tertuju pada simposium Jackson Hole pada Kamis mendatang dengan tema "Menjelajahi dekade ke depan: Implikasi untuk kebijakan moneter’.
Dalam simposium itu diharapkan Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, memberikan panduan tentang arah kebijakan moneter Amerika serta fokus pada target inflasi 2 persen.