Muhammad Nazarudin Latief
22 April 2020•Update: 22 April 2020
JAKARTA
Pemerintah memberikan insentif dan kelonggaraan pendanaan bagi proyek-proyek pada subsector Energi Baru Terbarukan (EBT) di tengah wabah Covid-19.
Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Hariyanto mengatakan pemerintah melakukan berbagai upaya mengurangi dampak kegiatan usaha yang melambat karena pandemi.
“Ada stimulus pendanaan yang diberikan pada dunia usaha,” ujar Hariyanto dalam siaran pers, Selasa.
Pemerintah sejauh ini mengidentifikasi berbagai kendala pada sektor EBT akibat adanya Covid-19, di antaranya terhambatnya sejumlah proyek dalam kontruksi/pengadaan mengakibatkan overhead cost dan bunga sehingga terjadi lay off (pemberhentian) tenaga kerja.
Ada juga kenaikan biaya konstruksi, pembatasan mobilisasi personil dan logistrik, hingga permintaan listrik yang terus menurun.
Menurut Hariyanto, stimulus pendanaan yang diberikan pemeritah meliputi penangguhan angsuran pinjaman hingga penurunan suku bunga proyek berbasis EBT.
Selain itu, keringanan lain berupa ralaksasi Commercial Operation Date (COD) dan peniadaan denda finansial untuk menyesuaikan mekanisme pengadaan Independent Power Producer (IPP).
Menurut Hariyanto ada pula pemberian subsidi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel.
Sebaliknya akan ada biaya tambahan (surcharge) untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.
“Pemerintah juga memberikan insentif khusus pajak melalui penangguhan dan penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) bagi pengembangan aneka EBT,” ujar dia.
Pemerintah juga akan mempercepat proyek EBT yang bersifat padat karya dan desentralisasi.
"PLTS Atap di kantor instansi Pemerintah atau industri perikanan (cold storage), PLTMH dan PLTS off grid tetap berjalan meskipun pabrikan PLTS ini beberapa telah menurunkan produksi," ujar Hariyanto.
Sementara, proyek-proyek berbasis APBN akan dilakukan restrukturisasi dan refokusing untuk tetap menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
"Program seperti Penerangan Jalan Umum-Tenaga Surya (PJU-TS) tetap berjalan walaupun dari sisi volume berkurang," ujar Hariyanto.