Iqbal Musyaffa
04 Agustus 2020•Update: 09 Agustus 2020
JAKARTA
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah mengakui wabah Covid-19 mengungkapkan kondisi sektor industri di Indonesia yang belum ideal.
Menurut dia, pelajaran pertama adalah fakta bahwa struktur industri manufaktur masih dangkal, kemudian kondisi industri kesehatan yang belum mandiri.
“Masih banyaknya kekosongan pada struktur industri manufaktur ini bisa menjadi potensi bagi pelaku industri untuk mengisinya,” ungkap Menteri Agus dalam diskusi virtual, Selasa.
“Pemerintah akan mengawal dan membina pelaku industri untuk bisa mengisi kekosongan tersebut agar struktur industri kita semakin dalam.”
Menurut dia, pemerintah harus bisa mewujudkan kemandirian pada bidang kesehatan, karena tidak menutup kemungkinan setelah vaksin Covid-19 ditemukan, akan muncul virus-virus baru yang lebih dahsyat dan mematikan.
“Indonesia harus mandiri di sektor kesehatan dengan membangun industri farmasi dan industri alat kesehatan,” lanjut Menteri Agus.
Pemerintah saat ini menyusun peta jalan program substitusi impor, targetnya pada 2022 mendatang bisa menggantikan sekitar 35 persen barang impor.
“Kita akan selaraskan dengan program Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan Kemenperin 2019 lalu agar operasional industri menjadi lebih efisien dan berdaya saing,” ujar dia.
Menurut Menteri Agus, sasaran pengurangan adalah industri yang memiliki nilai impor besar, seperti industri mesin sebesar Rp308 triliun, industri kimia Rp299 triliun, dan industri logam Rp241 triliun.
Pemerintah juga menambah dua prioritas pengembangan industri, yakni farmasi dan alat kesehatan sehingga total menjadi tujuh prioritas pengembangan industri.
Sebelumnya telah ditetapkan lima prioritas pengembangan industri antara lain industri elektronik, industri otomotif, industri kimia, industri makanan dan minuman, serta industri tekstil dan busana.