Muhammad Nazarudin Latief
30 April 2018•Update: 01 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berkunjung ke Jerman dan Ceko mempelajari implementasi industri 4.0 dan mengundang investasi dari kedua negara mulai Senin hingga Jumat mendatang.
Menurut Menteri Airlangga, Jerman adalah negara pertama yang membuat roadmap dan mengimplementasikan ekonomi digital.
“Ini cocok dengan Indonesia yang sudah merumuskan roadmap revolusi industri 4.0 dengan Making Indonesia 4.0 dan berusaha mengimplemtasikan,” ujar Menteri Airlangga dalam pernyataan pers, Senin.
Menurut Menteri Airlangga, dirinya akan mengunjungi Fraunhofer, sebuah lembaga riset yang sedang mengembangkan satu jenis algae yang bisa mengonversi palm oil mill effluent (POME) menjadi gasoline.
Penemuan ini, kata Menteri Airlangga bisa menekan emisi gas buang kendaraan dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). Ini sesuai dengan program Kementerian Perindustrian, yakni low carbon emission vehicle (LCEV) untuk mendorong industri otomotif di Indonesia memproduksi kendaraan ramah lingkungan.
Riset biofuel, kata Menteri Airlangga, penting untuk dilakukan karena Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.
“Kita juga punya rumput laut. Keduanya sedang dilakukan riset, dan pemerintah siap memberikan insentif,” paparnya.
Sepanjang 2010-2015, nilai keseluruhan investasi Jerman di Indonesia mencapai USD552 juta dengan 547 proyek dengan 38.382 orang tenaga kerja.
Pada 2017, nilai investasi Jerman di Indonesia untuk sektor manufaktur sebesar USD79,3 juta dengan total 108 proyek, naik dibanding capaian investasi tahun sebelumnya sebesar USD58,5 juta dengan 59 proyek.
Proyek investasi Jerman tersebut didominasi oleh sektor industri baja dan mesin, kimia dan farmasi, serta otomotif.
Kunjungan ini, kata Menteri Airlangga juga mengundang investasi dan transfer teknologi dalam industri manufaktur. Indonesia harus mampu membangun industri manufaktur yang berdaya saing global dengan menerapkan standar-standar keberlanjutan.
Untuk mewujudkannya, Indonesia aktif memilih 100 perusahaan manufaktur top dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif menarik untuk berkolaborasi dengan industri nasional.
Dalam kunjungan ke Ceko, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan Indonesia dijadwalkan bertemu dengan pelaku usaha. Ceko merupakan mitra dagang Indonesia terbesar keempat di kawasan Eropa Tengah dan Timur setelah Rusia, Ukraina dan Polandia.
Selama 2010-2015, total nilai investasi Ceko di Indonesia mencapai USD34,35 juta. Sedangkan, periode 2016-2017, investasi Ceko di sektor manufaktur mencapai USD499,5 ribu untuk tiga proyek yang meliputi industri logam dasar, barang logam, serta mesin dan elektronik.