Turki, Ekonomi, Berita analisis, Nasional

70 tahun hubungan diplomatik, perdagangan Indonesia - Turki belum maksimal

Asosiasi pengusaha menilai setidaknya ada tiga faktor yang membuat perdangan Indonesia dan Turki belum bernilai signifikan

Muhammad Nazarudin Latief,Pizaro Gozali Idrus,Iqbal Musyaffa   | 04.08.2020
70 tahun hubungan diplomatik, perdagangan Indonesia - Turki belum maksimal ILUSTRASI: (Foto file - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Pekan ini, orang nomor satu di Turki dan Indonesia menunjukkan kedekatannya di depan publik. Para pemimpin Indonesia - Turki tampak semakin akrab saat hubungan diplomatik kedua negara mencapai 70 tahun pada tahun ini.

Pada Minggu sore, Presiden Joko Widodo dan Presiden Recep Erdogan berkomunikasi melalui telpon dan membahas kerjasama kedua yang lebih erat.

Tak cuma itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia Puan Maharani, pada keesokan harinya, Senin waktu Jakarta, berkomunikasi melalui telpon dengan Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop. Keduanya membahas kerjasama vaksin, menguatkan dukungan kepada Palestina, dan mengajak kerjasama lebih erat di banyak bidang.

Sebenarnya bagaimana hubungan perdagangan kedua negara sejauh ini? Dari nilai perdagangan, sejauh ini Indonesia cukup diuntungkan dari pada Turki.

Dalam catatan Kementerian Perdagangan Indonesia, nilai perdagangan Indonesia dan Turki belum begitu besar, jika dibandingkan potensi dan hubungan sejarah kedua negara.

Pada periode Januari--November 2019, total perdagangan sebesar USD 1,38 miliar, dengan surplus sebesar USD 733,73 juta bagi Indonesia. Sedangkan pada 2018 mencapai USD 1,79 miliar.

Tahun-tahun sebelumnya, nilai perdagangan kedua negara lebih kecil lagi.

Ekspor Indonesia pada 2019 senilai USD1,18 miliar, sementara impor dari Turki senilai USD 611,52 juta sehingga Indonesia mengalami surplus sebesar USD569,85 juta.

Pangsa pasar produk Indonesia hingag kini juga masih sangat kecil, hanya sekitar 0,59 persen.

Komoditas ekspor utama Indonesia ke Turki pada 2018 adalah minyak kelapa sawit dan turunannya, karet alam, serat stapel tiruan, benang serat stapel sintetis dan benang filamen sintetik.

Sementara komoditas impor utama Indonesia dari Turki adalah minyak mentah, tembakau, karbonat, borat, serta bijih kromium dan konsentrat.

Februari lalu, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dan Deputi Menteri Perdagangan Turki Gonca Yilmaz Batur sepakat menyelesaikan perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT CEPA) tahun ini.

Implementasi perjanjian ini diharapkan bisa menjadi salah satu cara mencapai target perdagangan kedua negara yang disepakati Presiden Joko Widodo dan Presiden Erdogan sepakat meningkatkan total perdagangan menjadi USD10 miliar pada 2023.

“Penyelesaian dan implementasi IT- CEPA diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk mencapai target perdagangan tersebut,” ujar Wamendag Jerry Sambuaga beberapa waktu lalu.

CEPA adalah skema kerja sama ekonomi yang lebih luas dari sekadar isu perdagangan. 

Kerja sama ini umumnya juga mencakup akses pasar, pengembangan kapasitas dan fasilitasi perdagangan serta investasi.

Sejauh ini, Indonesia sudah menjalin CEPA dengan Jepang, Chile dan terakhir Australia yang baru diratifikasi tahun ini.

Secara umum, CEPA membuat arus perdagangan barang dan jasa tidak terganggu hambatan tarif dan non tarif.

Contohnya dengan Australian, perjanjian ini membuat produk Indonesia menikmati bea masuk nol persen di pasar negara itu.

“Potensi Indonesia seharusnya menjadikannya mitra bisnis strategis bagi Turki,” ujar Jerry.

Bagi Indonesia, Turki adalah hub atau penghubung untuk masuk ke pasar kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Sementara itu, bagi Turki, selain pasar yang besar, Indonesia menjadi hub untuk masuk ke pasar Asia Tenggara/ASEAN dengan potensi pasar 600 juta jiwa.

"Dari potensi yang besar itu, perdagangan baik barang maupun jasa serta investasi kedua negara saat ini masih terbilang sangat kecil,” ujar dia.

Masih banyak hambatan

Presiden Asosiasi Pebisnis dan Industri Independen Turki di Indonesia, Doddy Cleveland Hidayat Putra menyampaikan setidaknya ada tiga faktor yang membuat perdangan Indonesia dan Turki belum bernilai signifikan.

Pertama, masih minimnya interaksi pengusaha Indonesia dan Turki.

“Pengusaha Indonesia dan Turki belum saling mengenal satu sama lain,” ujar Doddy yang kini tengah berada di Istanbul kepada Anadolu Agency.

Untuk itu, kata Doddy, harus ada upaya untuk mengenalkan pengusaha Turki dan Indonesia.

“Ini terus diupayakan, seperti misalnya mengirimkan delegasi dagang baik dari Turki ke Indonesia maupun Indonesia ke Turki,” jelas dia.

Kata Doddy, hal tersebut sudah mulai dilakukan dengan keikutsertaan kedua pihak dalam mengikuti berbagai pameran.

Dia menyontohkan Turki akan menggelar Musiad Expo 2020 yang akan diselenggarakan di Istanbul pada 21 November 2020.

Menurut Doddy, ajang ini sangat bagus untuk mengenalkan produk-produk Indonesia ke Turki, juga mengenal mitra-mitranya dari Turki.

“Saya sebagai presiden Musiad Indonesia menghimbau kepada pengusaha Indonesia yang ingin mengekspor barang-barangnya, mengenalkan produknya, mencari mitra dan investor untuk mengikuti expo 2020 ini,” jelas Doddy.

Sebaliknya, kata Doddy, Musiad juga akan menginisiasi pameran produk Turki di Indonesia untuk memperkenalkan produk Turki di Indonesia.

“Sehingga publik Indonesia bisa lebih mengenal produk Turki,” ucap dia.

Kedua, belum rampungnya perjanjian Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA).

Menurut Doddy, aturan pajak antara Indonesia dan Turki sangat mempengaruhi kelancaran perdagangan kedua negara.

Doddy menuturkan saat perjanjian ini rampung tren perdagangan antara Indonesia dan Turki akan semakin menguat.

“IT-CEPA akan membuat lonjakan neraca perdagangan Indonesia dan Turki,” jelas Doddy.

Ketiga, instrumentasi keuangan. Doddy menjelaskan saat ini Turki mengimpor kopi dari Brazil dan lebih dari 90 persen kopi di Turki disupply dari Brazil.

Pengusaha Turki bisa membayar tiga bulan setelah barang tiba.

“Artinya ada lembaga keuangan di Brazil yang memberikan semacam pembayaran di awal kepada pengusaha Brazil sehingga hubungan perdagangan bisa tercipta,” tukas dia.

Doddy menerangkan Indonesia juga sudah memiliki lembaga pengembangan ekspor yang bisa memberikan instrumentasi keuangan.

“Nah ini bisa dimanfaatkan oleh pengusaha Indonesia yang melakukan ekspor ke Turki,” jelas dia.

Doddy menyampaikan ada berbagai peluang ekspor ke Turki yang sangat besar seperti lada, minyak kelapa sawit, kakao, karet, udang, perikanan, kertas.

“Itu semua bisa menjadi produk unggulan kita untuk ekspor ke Turki,” ungkap dia.

Selain itu, kata dia, juga ada berbagai produk lainnya yang bisa membuka pasar ekspor ke Turki seperti obat tradisional dan jamu-jamuan.

“Saya rasa akan menjadi produk yang dicari di Turki apalagi terkait dengan kondisi virus korona sekarang ini,” ujar Doddy.

Andree Surianta, Associate Researcher Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengatakan pada tahap awal ini, Free Trade Agreement (FTA) antara Indonesia dan Turki bisa menjadi solusi jangka pendek, sebelum CEPA berhasil disepakati.

Menurut dia, secara umum FTA bertujuan mengurangi tarif sehingga produk kedua negara bisa saling akses.

Kunci keberhasilan perdagangan kedua negara adalah bisa mempertemukan kebutuhan yang ada di Turki dengan produk ekspor Indonesia, begitu juga sebaliknya..

“Kalau memang ada FTA bisa meningkatkan perdagangan, tinggal detailnya saja,” ujar dia.

“Cari apa yang kita butuhkan dan Turki butuhkan dari kita. Pemerintah biasanya tekankan apa yang bisa kita jual, tapi tidak perhatikan apa yang Turki bisa suplai ke kita,” ujar dia.

Menurut dia, produk antarkedua negara saling melengkapi sehingga tidak bersaing secara bebas di pasaran.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın