Muhammad Nazarudin Latief
02 November 2018•Update: 02 November 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mendorong pengusaha sawit menginvestasikan sebagian dananya untuk riset guna mengembangkan produk yang bisa diserap pasar global.
“Riset itu kunci agar bisa meningkatkan kualitas ekspor dan menciptakan kebutuhan serta pasar di mancanegara,” ujar Menteri Enggar saat memberikan paparan pada Konferensi Minyak Kelapa Sawit Indonesia (The Indonesian Palm Oil Conference/IPOC) 2018, di Bali.
Saat ini, kata Menteri Enggar, sudah ada berbagai riset dilakukan untuk menciptakan produk minyak kelapa sawit yang dapat memberikan kontribusi terhadap biofuel generasi kedua yang berkelanjutan.
Selain itu, kata dia, perlu dilakukan pengembangan riset atas dampak minyak kelapa sawit terhadap kesehatan, dan riset terhadap bioavtur serta berpartisipasi secara aktif dalam Kelompok Pengguna Bahan Bakar Aviasi yang berkelanjutan (SAFUG) dan asosiasi organisasi sektor industri kelapa sawit (Roundtable for Sustainable Biofuels/RSB).
"Hal ini penting dilakukan mengingat konsumen kini adalah konsumen terdidik dan memiliki kesadaran tinggi tentang lingkungan hidup, sehingga membutuhkan produk yang lebih sehat, lebih aman, dan ramah lingkungan," imbuh Mendag.
Menurut Menteri Enggar, minyak kelapa sawit bukan sekedar produk bagi Indonesia dan dunia, tetapi komoditas tersebut telah memiliki peran penting mendorong lapangan pekerjaan serta pengentasan kemiskinan.
Namun kampanye negatif semakin kencang dihembuskan oleh negara-negara maju, kata Enggar.
Tiga isu utama yang kerap menjadi bahan kampanye negatif tersebut adalah isu kesehatan, lingkungan, dan pembangunan yang berkelanjutan.
"Untuk itu, investasi yang tidak kalah pentingnya adalah investasi terhadap kampanye positif minyak kelapa sawit,” kata Enggar.
Para pelaku usaha perlu bersatu dalam menghadapi isu-isu negatif seputar minyak kelapa sawit dengan melakukan kampanye positif, imbuh dia.
Pemerintah juga berupaya sebaik mungkin melalui berbagai cara diplomatik untuk menghentikan kampanye negatif tersebut dan untuk menciptakan gambaran yang lebih obyektif tentang minyak kelapa sawit, kata dia.
“Salah satunya adalah dengan memprioritaskan bidang minyak kelapa sawit di setiap perjanjian perdagangan antara Indonesia dengan negara lain,” kata dia.
Tahun lalu, ujar Enggar, minyak kelapa sawit menyumbang 13,7 persen dari total pendapatan ekspor Indonesia sebesar USD168,8 miliar dan menjadi sumber penghasilan bagi 5,3 juta pekerja, serta memberikan penghidupan bagi 21 juta orang di Indonesia.
IPOC adalah forum tahunan industri kelapa sawit yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).
Acara ini telah menjadi patokan bagi para pemangku kepentingan industri kelapa sawit dalam mengikuti perkembangan terbaru seputar tren pasar, peraturan, serta kebijakan pemerintah.
Tahun ini IPOC mengambil tema “Palm Oil Development: Contribution to SDGs”. Tema tersebut penting untuk diangkat karena untuk menjawab isu-isu negatif terhadap perkebunan kelapa sawit.
Ketua GAPKI Joko Supriyono mengatakan industri kelapa sawit telah berkomitmen pada environmental sustainability, yaitu berorientasi pada pengembangan industri rendah emisi.
Menurut Joko, sejumlah persoalan global masih membayangi industri sawit pada tahun ini, di antaranya akibat perang dagang Amerika Serikat dan China, hambatan bea cukai perdagangan, serta kampanye hitam.
Hingga tahun ini, kata Joko, iklim bisnis industri kelapa sawit di Indonesia masih positif.
Berdasarkan komparasi 2017 hingga Oktober 2018, ekspor kelapa sawit Indonesia meningkat hingga 4 persen dengan pendapatan mencapai USD2,1 juta. Bahkan di akhir 2018, ekspor ditargetkan meningkat hingga 7 persen dengan pendapatan USD2,9 juta.