Iqbal Musyaffa
15 Oktober 2020•Update: 16 Oktober 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan Indonesia masih sangat tergantung impor barang-barang dan produk asal China dengan jumlah impor pada September sebesar USD3,51 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan nilai impor tersebut setara 33,73 persen dari total impor pada bulan September yang sebesar USD11,57 miliar.
“Impor Indonesia asal China pada bulan September ini meningkat USD148,6 juta dari bulan Agustus,” ujar Suhariyanto.
Selain China, Indonesia juga banyak mengimpor barang dan produk asal Jepang dengan total impor USD0,77 miliar pada September ini atau setara 7,38 persen dari total impor.
Impor Indonesia asal Jepang pada bulan ini meningkat USD208,3 juta dari bulan Agustus.
Kemudian, Singapura menjadi negara terbesar ketiga asal impor Indonesia pada bulan September dengan nilai impor USD0,62 miliar atau 5,94 persen dari total impor.
“Impor asal Singapura juga meningkat USD62,5 juta dari bulan Agustus,” imbuh dia.
Sementara itu, berdasarkan jenis barang yang paling banyak diimpor Indonesia pada September adalah mesin dan peralatan mekanis sebesar USD1,76 miliar, meningkat 6,28 persen dari Agustus yang sebesar USD1,65 miliar.
Volume impor kelompok barang ini juga meningkat dari 229 ribu ton pada Agustus menjadi 240,5 ribu ton pada September.
Suhariyanto menambahkan Indonesia juga banyak mengimpor mesin dan perlengkapan elektrik pada September dengan total nilai USD1,68 miliar meningkat 5,07 persen dari nilai USD1,6 miliar pada Agustus.
Secara volume, total impor produk ini pada September mencapai 112,9 ribu ton, meningkat 4,85 persen dari Agustus yang sebanyak 107,7 ribu ton.
Kemudian Indonesia juga banyak mengimpor plastik dan barang dari plastik dengan total nilai USD567,9 juta pada September ini, meningkat 3,02 persen dari Agustus yang sebesar USD551,3 juta.
Secara volume, impor plastik dan barang dari plastik yang dilakukan Indonesia pada September sebanyak 357,2 ribu ton, naik 0,24 persen dari jumlah 356,3 ribu ton pada Agustus lalu.