Iqbal Musyaffa
30 Juni 2020•Update: 30 Juni 2020
JAKARTA
Indonesia berupaya membuka pasar baru batu bara setelah permintaan dari negara-negara importir utama seperti India dan China turun.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko mengatakan upaya pembukaan pasar baru ekspor batu bara sudah dilakukan sejak 5 tahun terakhir.
“Sudah mulai ada kontak bisnis dari Pakistan, Bangladesh, Vietnam, dan Sri Lanka dengan penambang kita,” ujar dia dalam diskusi virtual, Selasa.
“Skemanya masih business to business (B to B).”
Menurut dia kementerian berusaha mencari informasi pasar dengan kedutaan di negara-negara yang menjadi target.
“Kita juga akan menjajaki kerja sama Government to Government dengan mengundang negara tujuan ekspor dan bisa juga kita datang ke sana untuk menyampaikan keunggulan batu bara kita,” tambah Sujatmiko.
Menurut dia produksi batu bara hingga akhir Mei baru mencapai 228 juta ton dari total target produksi 550 juta ton.
Dari jumlah tersebut, 43,7 juta ton di antaranya untuk pemenuhan pasar dalam negeri.
Total batu bara yang diekspor hingga akhir Mei baru mencapai 175,15 juta ton dengan nilai USD7,7 miliar.
Jumlah volume produksi tersebut turun 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berjumlah 193,82 juta ton.
Nilainya juga turun hingga 18 persen dari USD9,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
“Penurunan kinerja ekspor disebabkan oleh berkurangnya permintaan batu bara dari negara pengguna, serta melemahnya harga sebagai dampak Covid-19 dan juga rendahnya harga minyak global,” ujar Sujatmiko.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan India dan China menyedot hampir 60 persen batu bara ekspor Indonesia.
“Pasar baru tidak bisa kita harapkan untuk mengisi kekurangan pasokan dari China dan India dalam jangka pendek,” ujar dia.
Meski permintaan dari China dan India berkurang, namun kedua negara tersebut masih sangat membutuhkan batu bara asal Indonesia karena memiliki daya saing dan juga keunggulan dalam hal pengangkutan, ujar dia.
“Untuk ekspor, kita masih terkonsentrasi di China, India, Jepang, Korea, Taiwan, dan ASEAN,” lanjut dia.
Menurut Hendra permintaan batu bara Indonesia di negara tujuan ekspor sangat tergantung pada upaya pemulihan ekonomi di masing-masing negara.