İqbal Musyaffa
12 November 2019•Update: 13 November 2019
JAKARTA
Kementerian Perindustrian mengatakan sedang membidik masuknya investasi produsen kaca global karena pembangunan di Indonesia saat ini terbilang sangat pesat sehingga kebutuhan kaca sangat besar.
Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Pendalaman, Penguatan, dan Penyebaran Industri Dody Widodo mengatakan di Indonesia baru ada dua pemain besar dalam produksi produk kaca, sehingga penting ada investor lain yang masuk sebagai pendukungnya.
“Banyak alat dan mesin yang kita butuhkan di Indonesia karena akan mendukung pembangunan,” kata Dody kepada Anadolu Agency di Jakarta, Selasa.
Dody mengatakan potensi industri kaca di Indonesia sangat besar karena pemerintah memiliki kebijakan untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi ekspor untuk produk andalan, seperti sektor otomotif yang membutuhkan banyak produk kaca sebagai komponen pendukungnya.
“Kaca juga bisa dipakai untuk bangunan dan alutsista lewat kaca anti peluru yang pemainnya belum banyak di Indonesia sehingga butuh banyak pemain yang masuk,” lanjut dia.
Indonesia juga sedang mendorong pembukaan pasar-pasar baru non-tradisional sehingga produksi kaca dalam negeri bisa masuk ke berbagai negara tujuan ekspor baru, khususnya di Afrika.
Dody menambahkan bahwa Indonesia sangat layak menjadi basis produksi produk kaca karena sumber bahan baku cukup baik, tenaga kerja banyak tersedia, serta telah mendukung penggunaan teknologi untuk industri 4.0.
Dody berharap agar ada investasi sektor produk kaca yang masuk ke Indonesia setelah meninjau pameran produk dan teknologi terkini di industri kaca bertajuk the 17th Glasstech Asia 2019 yang diikuti 124 pelaku usaha dari 14 negara.
Pameran ini diklaim pameran terbesar di tingkat Asia Tenggara untuk menghubungkan pelaku industri kaca global dengan perusahaan lokal di Indonesia yang mau memasuk pasar Asia Tenggara.
Kapasitas produksi
Sementara itu, Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Indonesia Yustinus Gunawan mengatakan kapasitas produksi terpasang produk kaca di Indonesia dari dua produsen mencapai 1,3 juta ton per tahun dan saat ini sedang ada persiapan satu produsen lain untuk masuk dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 300 ribu ton per tahun.
“Sehingga nantinya kapasitas produksi terpasang dapat mencapai 1,6 juta ton per tahun,” kata Yustinus.
Yustinus menjelaskan dari 1,3 juta ton kapasitas produksi terpasang, sudah terpakai 92,5 persen dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sebesar 800 ribu ton per tahun.
Sementara sisanya sekitar 35-40 persen dipakai untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke Afrika, Eropa, Asia, dan Selandia Baru.
“Kami bisa menyuplai kebutuhan kaca untuk bangunan dan otomotif dan hampir semua kebutuhan kaca diproduksi di dalam negeri,” lanjut dia.
Akan tetapi, Yustinus mengatakan pengusaha produk kaca memerlukan adanya regulasi yang semakin mendukung pengembangan produk kaca yang lebih efektif.
Beberapa hambatan pendukung daya saing produk kaca menurut dia adalah biaya energi yang masih cukup tinggi yang masih di atas USD6 per MMBTU.
“Formulasi harga energi sedang digarap kementerian ESDM dan Perindustrian sehingga pelaku industri bisa dapat harga yang terjangkau sesuai Perpres nomor 40 tahun 2016,” kata dia.
Selain itu, pengembangan kualitas SDM terampil untuk pemasangan kaca menjadi penting sehingga bisa menarik lebih banyak pengusaha kaca untuk berinvestasi di Indonesia.