Hayati Nupus
22 Januari 2021•Update: 25 Januari 2021
JAKARTA
Harga rumah di Singapura naik 2,2 persen tahun lalu, meski diterjang krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Urban Redevelopment Authority Singapura (URA) pada Jumat mengatakan pada kuartal keempat tahun lalu, harga properti naik 2,1 persen ketimbang tiga bulan sebelumnya.
Wakil presiden senior lembaga penelitian dan analisis OrangeTee, Christine Sun, menambahkan bahwa pasar properti di seluruh dunia mengalami ledakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Harga properti naik dan tren ini tersebar luas di banyak negara, termasuk AS, Kanada, Eropa, China, Australia, dan Asia,” ujar dia.
Indeks harga properti residensial swasta meningkat menjadi 157 poin pada kuartal keempat, naik dari 153,8 poin pada kuartal ketiga.
Sementara harga properti non-tanah naik 3 persen pada kuartal keempat 2020, sehingga total kenaikan tahunan menjadi 2,5 persen.
Kenaikan ini dipicu oleh penjualan di Kawasan Pusat Inti, di mana harga properti non-tanah naik 3,2 persen di kuartal keempat, dibandingkan dengan penurunan 3,8 persen di kuartal sebelumnya.
“Sementara pandemi telah memicu luka jangka panjang dan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi ekonomi global, faktor-faktor tertentu membuatnya lebih menguntungkan pembeli yang telah berjuang untuk memasuki pasar selama beberapa tahun,” kata Sun.