Muhammad Nazarudin Latief
14 Agustus 2018•Update: 15 Agustus 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pengusaha Indonesia menyesalkan kebijakan Amerika Serikat yang menerapkan tarif impor tinggi terhadap berbagai produk, terutama besi baja dan aluminium dari Turki.
Wakil Ketua Kadin Komite Timur Tengah dan Organisasi Konferensi lam (OKI) Muhammad Bawazeer mengatakan, lambat laun semua negara akan merasakan dampak negatif dari kebijakan tersebut.
“Dunia usaha menyesalkan tax barier dari Amerika Serikat (AS). Ini tidak benar,” ujar dia setelah konferensi pers tentang sidang tahunan Islamic Chamber of Commerce, Industry and Agriculture (ICCIA), di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, perilaku ini akan memancing negara-negara yang dirugikan menggalang kekuatan impor dan memberikan balasan. Komoditas yang bisa menjadi senjata untuk menawar Amerika adalah minyak mengingat kebutuhan negara tersebut sangat besar.
“Saudi bisa ditekan Amerika untuk memenuhi kebutuhan minyaknya, tapi itu tidak cukup.”
Menurut Bawazeer, pelemahan lira belum berdampak langsung pada kegiatan ekspor-impor negara tersebut karena fundamental perekonomiannya yang cukup kuat.
Menurutnya, Turki adalah negara yang kuat dalam bidang teknologi, sains, peralatan militer dan energi.
“Secara keekonomian pasti ada dampaknya. Tapi Turki menguasai industri militer punya industri kapal selam, di sektor energi dia menguasai,” ujar Bawazeer
Belakangan Turki konsisten membangun fundamental perekonomiannya sebagai salah satu syarat keanggotaan Uni Eropa. Setelah proses penerimaan anggota UE tidak berjalan lancar, maka Turki sedikit mengalihkan bisnisnya dengan negara-negara Timur Tengah.
“Di Timur Tengah, Turki paling kuat fundamen perekonomiannya,” ujar dia.
Menurut Bawazeer, dengan kekuatan ekonomi ini akan membuat kejatuhan lira mempunyai pengaruh secara global. Bahkan berpengaruh pada Amerika Serikat, yang mengenakan tarif impor besi, baja dan aluminium tinggi pada produk dari Turki.
“Mau tidak mau ini akan berpengaruh secara global. Amerika mempertimbangkan ini atau tidak saat mengenakan tarif impor yang tinggi pada Turki,” ujar dia.
Ketua Kadin Rosan Roeslani mengatakan ada sedikit tekanan terhadap rupiah karena pelemahan lira, seperti juga terjadi pada mata uang negara-negara lain.
Menurutnya, penyebab pelemahan rupiah ini paling besar karena defisit transaksi berjalan.
Pengusaha Indonesia sebenarnya sudah mengantisipasi, namun jika pergerakannya terlalu tinggi maka akan sulit diantisipasi.
"BI sudah melakukan langkah-langkah yang baik, tapi perkiraan The Fed masih akan menaikkan suku bunga lagi dua kali tahun ini, cost of fund kita akan naik juga," lanjut dia.
Cara menyelamatkan perekonomian adalah dengan memangkas defisit perdagangan dengan meningkatkan ekspor, meski itu bukan langkah mudah.
Besok Kadin akan mengumpulkan pengusaha untuk membahas kondisi ekonomi global.