Iqbal Musyaffa
20 Februari 2020•Update: 20 Februari 2020
JAKARTA
Kementerian Keuangan mengatakan hingga akhir Januari defisit anggaran dalam APBN 2020 sudah mencapai Rp36,1 triliun atau 0,21 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan defisit anggaran tersebut mencapai 11,8 persen dari target defisit dalam APBN 2020 yang sebesar Rp307,2 triliun atau 1,76 persen dari PDB.
“Realisasi defisit ini lebih baik dari defisit pada Januari 2019 yang sebesar Rp45,1 triliun atau 0,29 persen dari PDB,” jelas Menteri Sri Mulyani di Jakarta, Rabu malam.
Menurut dia, realisasi defisit hingga akhir Januari tidak terlepas dari banyaknya sentimen negatif dari ekonomi global yang bergejolak sepanjang 2019 dan berlanjut hingga 2020 serta diperparah dengan adanya wabah virus korona.
“Menjelang pertengahan Januari muncul problem virus korona yang jadi risiko dan termaterialisasi dengan sangat cepat,” kata dia.
Oleh karena itu, optimisme terhadap dinamika ekonomi global di awal tahun terganggu oleh penyebaran virus tersebut yang sangat cepat dan masif.
Menteri Sri Mulyani mengatakan realisasi defisit APBN berasal dari pertumbuhan penerimaan negara yang lebih rendah daripada realisasi belanja negara.
Penerimaan negara tercatat sebesar Rp103,68 triliun sementara belanja negara sebesar Rp139,83 triliun.
Realisasi penerimaan negara tersebut baru 4,6 persen dari target dalam APBN 2020 yang sebesar Rp2.233,1 triliun. Namun, lebih rendah dari realisasi pada Januari 2019 yang sebesar Rp108,71 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara baru mencapai 5,5 persen dari target Rp2.540,4 triliun. Realisasi belanja juga lebih rendah dari Januari tahun lalu yang sebesar Rp153,85 triliun.
“Ada kontraksi karena tahun lalu terjadi frontloading dan tambahan bansos di Januari. Pada tahun ini bansos dinormalisasi, dibelanjakan untuk 12 bulan,” kilah Menteri Sri Mulyani.
Lebih lanjut, dia mengatakan keseimbangan primer hingga akhir Januari mengalami defisit sebesar Rp13,6 triliun atau 113,2 persen dari target defisit keseimbangan primer yang sebesar Rp12 triliun.