İqbal Musyaffa
14 Maret 2018•Update: 15 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun ini lebih baik dari triwulan yang sama tahun lalu.
Pada Triwulan I 2017, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen. Gubernur BI Agus Martowardojo pada Selasa malam di Jakarta, memperkirakan pada Triwulan I tahun ini pertumbuhannya akan lebih baik.
“Namun tumbuhnya akan sedikit lebih rendah dari Triwulan IV tahun 2017 yang saat itu tumbuh 5,19 persen,” ujar Agus.
Ini masih wajar, menurut dia, karena masih berada di awal tahun dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama di tahun-tahun sebelumnya menujukkan pola yang sama.
Terkait pertumbuhan ekonomi, BI juga memperkirakan pertumbuhan impor pada triwulan pertama tahun ini sangat tinggi. Karena sejak Desember hingga Februari banyak terjadi impor bahan baku.
“Ini menunjukkan produksi sepanjang 2018 akan cukup meningkat karena banyaknya impor bahan baku,” ulas dia.
BI, menurut dia, sudah memperkirakan hal tersebut. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih akan defisit meskipun tidak sebesar di bulan Januari akibat tingginya impor. Pada Januari, defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD680 juta.
“Kondisi ini konsisten dengan perkiraan BI yang memperkirakan neraca transaksi berjalan pada 2018 sedikit melebar dari 1,7 persen dari GDP menjadi 2,1 persen dari GDP,” ungkap Agus.
Secara nominal, menurut Agus, defisit transaksi berjalan akan melebar dari USD17 miliar menjadi USD22-23 miliar. Hal ini dipengaruhi dari aktivitas ekspor impor Indonesia seiring dengan terus tumbuhnya perekonomian nasional.
Agus juga mengatakan ekspor Indonesia bisa sedikit terhambat akibat langkah beberapa negara yang memberikan bea masuk untuk produk-produk unggulan Indonesia dan ini perlu diwaspadai.
“Tapi kami yakin upaya pemerintah membuka pasar baru dan berdiplomasi dengan negara yang memberikan bea masuk akan membantu peningkatan ekspor,” imbuh Agus.