İqbal Musyaffa
10 September 2018•Update: 11 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia memastikan tidak ada aksi spekulasi yang dapat membuat nilai tukar rupiah semakin tergerus.
Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia Doddy Zulverdi dalam diskusi di Jakarta, Senin, mengatakan spekulan biasanya akan bermain bila kebijakan BI selaku otoritas moneter tidak konsisten sehingga membuat peluang untuk aksi spekulasi.
Menurut Doddy, spekulan akan beraksi apabila BI di tengah kondisi ekonomi global yang memburuk di tengah transaksi berjalan Indonesia yang masih defisit kemudian tidak merespons dengan kenaikan suku bunga.
“Padahal sudah jelas ada tekanan dari sisi peningkatan kebutuhan impor yang melebihi kebutuhan ekspor. Mereka (spekulan) kemudian akan melihat bahwa nilai tukar sekarang tidak konsisten, sehingga memicu spekulasi,” jelas Doddy.
Bank sentral dan pemerintah menurut dia, telah melakukan berbagai kebijakan untuk membuat pergerakan rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. Kalaupun memang rupiah harus melemah, hal itu karena kondisi global juga sedang bermasalah.
“Semua mata uang negara-negara peer juga sedang melemah dan dolar menguat terhadap semua mata uang tanpa terkecuali,” lanjut dia.
Dengan kondisi transaksi berjalan Indonesia yang saat ini sedang defisit, BI dan pemerintah melakukan langkah mitigasi efek pelemahan nilai tukar dengan menaikkan suku bunga, agar pergerakan nilai tukar tidak terlalu cepat dan investasi di Indonesia tetap menarik.
“Langkah yang BI ambil diperlukan agar tekanan nilai tukar tidak terlalu besar. Itu kemudian membuat tidak ada ruang spekulasi,” tambah Doddy.
Selain itu, BI menurut dia, juga memiliki peraturan terkait kewajiban transaksi valas harus sesuai underlying. Untuk memastikannya, BI bekerja sama secara berkala dengan OJK untuk memonitor transaksi valas di perbankan.