İqbal Musyaffa
28 Februari 2019•Update: 01 Maret 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia menegaskan likuiditas perbankan tetap terjaga dan mencukupi sehingga perbankan tidak perlu menaikkan suku bunga kredit.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan likuiditas masih mencukupi untuk mendorong pertumbuhan kredit yang diperkirakan tumbuh 10 hingga 12 persen. Pada Desember BI menambah likuiditas Rp120 triliun. Kemudian pada Januari juga ditambah Rp75 triliun, dan pada Februari BI juga tetap menambah likuiditas.
“Likuiditas kami terus tambah. Kalau masih kurang, bilang saya,” tegas Perry kepada pimpinan perbankan yang hadir dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Kemudian terkait suku bunga kebijakan, Perry menjelaskan tetap dijaga pada level 6 persen karena sudah hampir mencapai puncaknya. Menurut dia, suku bunga BI diarahkan untuk menjaga stabilitas eksternal.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso juga mengatakan bahwa kondisi likuiditas saat ini masih aman karena OJK selalu mengukur ketersediaan dana yang ada di BI dan surat berharga.
Menurut dia, yang menjadi persoalan adalah pada segmentasi likuiditas karena ada perbankan yang memiliki likuiditas banyak, namun juga ada yang memiliki likuiditas ketat meskipun jumlahnya tidak banyak.
“Kalau strukturnya (perbankan) salah, jangan salahkan likuiditas,” tambah Wimboh.
Wimboh menambahkan pada tahun lalu penyaluran kredit tumbuh untuk pembiayaan sektor riil, namun di sisi lain dana pihak ketiga sulit dikumpulkan. Akan tetapi, dia mengatakan pada tahun ini kondisi lebih baik karena likuiditas kembali normal.
“Likuiditas itu isu temporary, dan ini masalah struktural, bukan likuiditas,” jelas dia.