Nur Asena Erturk
19 Desember 2024•Update: 21 Desember 2024
ANKARA
Rusia "tidak menginginkan perdamaian," jadi Eropa harus mendukung Ukraina semampunya, kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa pada Rabu.
"Saya melihat ada... keinginan untuk solusi yang benar-benar singkat dan cepat, tetapi kita berada dalam situasi di mana Rusia tidak menginginkan perdamaian, dan itu merupakan masalah," kata Kaja Kallas kepada wartawan di depan pintu masuk KTT Uni Eropa-Balkan Barat di Brussels.
“Jadi untuk mendapatkan solusi terbaik, kita perlu mendukung Ukraina semampu kita,” kata dia lebih lanjut, sambil menambahkan bahwa Ukraina yang lebih kuat “di medan perang” akan membuatnya lebih kuat “di meja perundingan, dan itu juga demi kepentingan Eropa.”
Kallas juga menyuarakan tujuannya untuk “melihat kemajuan nyata dalam proses perluasan selama lima tahun” masa jabatannya.
Setelah lebih dari seribu hari perang Rusia di Ukraina yang dimulai pada Februari 2022, dia mengungkapkan, “Kami juga akan membahas kegiatan hibrida Rusia dan perang di Ukraina, serta apa lagi yang dapat kami lakukan."
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menekankan bahwa perluasan tersebut merupakan "prioritas" dan "investasi geopolitik terpenting dalam perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan."
Dia juga menggambarkan rencana pertumbuhan tersebut sebagai "pengubah permainan" yang dapat "mengubah Balkan Barat secara radikal selama beberapa dekade ini."
Rencana tersebut diadopsi oleh Komisi Uni Eropa pada bulan November 2023, untuk mengintegrasikan Balkan Barat ke dalam pasar tunggal Uni Eropa, memperdalam kerja sama ekonomi regional dan reformasi terkait Uni Eropa, serta meningkatkan pendanaan pra-aksesi.
'Uni Eropa satu-satunya mitra yang dapat diandalkan dan teguh bagi negara-negara Balkan Barat'
Perdana Menteri Belgia Alexander de Croo mengatakan, pada bagiannya, bahwa UE adalah "satu-satunya mitra yang dapat diandalkan dan teguh bagi negara-negara Balkan Barat."
Mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh negara-negara tersebut dalam perjalanan mereka menuju aksesi UE, perdana menteri menambahkan bahwa blok tersebut, bagi pihaknya, "sejalan dengan proses perluasan," perlu melakukan "reformasi" untuk memastikan kesiapannya menjadi "plus 27."
De Croo juga mengomentari situasi di Suriah, dengan menekankan pentingnya menghormati "integritas teritorialnya."
"Segala sesuatu perlu dilakukan untuk meredakan situasi, sehingga, misalnya, orang-orang yang ingin kembali, dapat kembali. Kita perlu menghindari Suriah sebagai tempat terjadinya konflik regional yang melibatkan banyak negara. Jadi seruan kami adalah: Hentikan kekerasan dan hormati integritas teritorial Suriah," kata perdana menteri Belgia lebih lanjut.
Bashar Assad, pemimpin Suriah selama hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia setelah kelompok anti-rezim menguasai Damaskus pada 8 Desember, mengakhiri rezim Partai Baath, yang telah berkuasa sejak 1963.
Negara ini terkunci dalam perang saudara yang kejam sejak awal tahun 2011, ketika rezim Assad menindak protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.
Para pemimpin dari Uni Eropa dan negara-negara Balkan Barat akan berfokus pada tiga bidang utama selama pertemuan puncak di Brussels: meninjau kemajuan negara-negara Balkan Barat menuju keanggotaan Uni Eropa, membahas dukungan komprehensif Uni Eropa untuk kawasan tersebut, dan memperkuat kerja sama regional.
KTT tersebut mempertemukan 27 negara anggota UE dan enam negara Balkan Barat, termasuk Albania, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, Makedonia Utara, dan Kosovo.