Umar İdris
28 Agustus 2019•Update: 28 Agustus 2019
Diyar Guldogan
ANKARA
Turki ingin bekerjasama dengan Rusia di bidang industri pertahanan, kata Presiden Turki Recep Tayyp Erdogan, pada Selasa.
"Kami ingin melanjutkan solidaritas kami dengan Rusia di banyak hal di industri pertahanan. Bisa bekerjasama dalam hal pesawat penumpang atau pun pesawat tempur. Semuanya adalah semangat solidaritas, " kata Erdogan pada konferensi pers dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, di Moskow.
Sebelumnya pada Selasa, Erdogan dan Putin menghadiri upacara peresmian International Aviation and Space Salon MAKS-2019, salah satu pameran dirgantara terbesar di dunia.
Kepada Erdogan, Putin menunjukkan jet tempur Erdogan Su-57 di pameran udara, pesawat stealth Rusia generasi terakhir. Kedua presiden itu juga memeriksa jet tempur Su-35, helikopter militer Ka-52 dan helikopter angkut Mi-38.
Selama konferensi pers, Putin mengatakan kedua negara dapat melakukan kerja sama pada jet tempur Su-35 dan bekerja sama pada Su-57.
"Kami memiliki banyak peluang kerjasama," katanya.
Situasi di Suriah
Mengenai serangan baru-baru ini di provinsi Idlib barat laut Suriah, Erdogan mengatakan wilayah itu menghadapi "krisis kemanusiaan" karena lebih dari 500 warga sipil tewas dan lebih dari 1.200 lainnya terluka sejak Mei dalam serangan rezim Bashar Al-Assad.
Turki dan Rusia sepakat pada September lalu untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Namun, rezim Suriah dan sekutunya, secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata, dan sering melancarkan serangan di dalam zona tersebut.
Zona de-eskalasi saat ini menjadi rumah bagi sekitar empat juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dari seluruh wilayah Suriah.
"Tidak dapat diterima bahwa rezim menyebarkan kematian, baik dari darat maupun udara dengan dalih memerangi terorisme," kata Erdogan.
Dia mengatakan Turki dapat memenuhi tanggung jawabnya dalam kesepakatan Sochi "jika rezim mengakhiri serangan" di sana.
Erdogan mengatakan Turki siap bekerja sama dalam format Astana untuk memastikan "ketenangan" di Idlib.
"Tujuan kami adalah untuk menghentikan pertumpahan darah dan untuk mendapatkan lingkungan yang damai yang telah dirindukan selama delapan tahun bagi tetangga kami Suriah," tambahnya.
Suriah telah dikunci dalam perang saudara yang ganas sejak awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.
Sejak itu, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta lainnya mengungsi, menurut pejabat PBB.