Maria Elisa Hospita
06 Oktober 2020•Update: 06 Oktober 2020
Jeyhun Aliyev
ANKARA
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan Kanada telah memberikan standar ganda dengan menangguhkan izin ekspor beberapa produk militer ke Turki.
"Keputusan Kanada mengenai penangguhan izin ekspor beberapa produk militer ke negara kami mengindikasikan standar ganda," kata kementerian dalam sebuah pernyataan.
Sejak tahun lalu, ketika Turki meluncurkan operasi kontraterorisme Mata Air Perdamaian di Suriah Utara, Kanada telah berupaya menghambat izin ekspor material militer untuk Turki.
"Sikap mereka tidak sesuai dengan semangat dan kerja sama aliansi," imbuh kementerian.
Sejak 2016, Turki meluncurkan tiga operasi antiteror untuk mencegah pembentukan koridor teror dan memungkinkan repatriasi orang-orang Suriah: Perisai Efrat (2016), Cabang Zaitun (2018), dan Mata Air Perdamaian (2019).
"Kanada tidak masalah mengekspor senjata ke negara-negara yang terlibat krisis di Yaman, di mana salah satu tragedi kemanusiaan terbesar abad ini terjadi. Namun tak ada penjelasan mengenai pemblokiran ekspor produk pertahanan ke sekutu NATO," papar kementerian.
Padahal Turki memiliki kontrol ekspor yang komprehensif dan tekun melaksanakan kewajibannya.
"Kami berharap Kanada akan mengikuti kebijakan yang jauh dari standar ganda, bertindak tanpa berada di bawah pengaruh lingkaran anti-Turki, dan tidak terbatas pada kepentingan politik yang sempit," tambah kementerian.
Penangguhan izin ekspor
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Kanada Francois-Philippe Champagne mengatakan bahwa selama beberapa terakhir ada "tuduhan" mengenai penggunaan teknologi Kanada dalam konflik militer di Nagorno-Karabakh.
Setelah mengetahui "tuduhan" ini, dia pun segera menginstruksikan penyelidikan terkait klaim tersebut.
"Sejalan dengan rezim kontrol ekspor Kanada yang kuat dan karena konflik yang sedang berlangsung, saya telah menangguhkan izin ekspor terkait ke Turki, untuk menilai situasi lebih lanjut," jelas Champagne.
Dia juga mengatakan bahawa Kanada prihatin dengan situasi di Upper Karabakh yang menyebabkan jatuhnya korban sipil.
"Kanada mendesak tindakan segera untuk menstabilkan situasi di sana," kata dia lagi.
Konflik Upper Karabakh
Pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan yang memperebutkan Nagorno-Karabakh dimulai pada 27 September.
Hubungan antara kedua bekas republik Soviet itu tegang sejak tahun 1991, ketika militer Armenia menduduki wilayah itu, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Empat Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB menuntut penarikan pasukan pendudukan.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia dan AS - dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik tersebut, tetapi tak kunjung berhasil. Gencatan senjata, bagaimanapun, disepakati pada 1994.