Rıskı Ramadhan
13 Februari 2018•Update: 13 Februari 2018
Hamza Rezuk
TUNIS
Pengusaha sekaligus aktivis asal Aljazair Rachid Nekkaz, yang membela hak-hak wanita bercadar di Prancis, mengatakan bahwa pihak berwenang Tunisia mencegahnya masuk ke negara tersebut, demikian dilaporkan pada Selasa.
Kepada Anadolu Agency, Nekkaz mengatakan bahwa dia datang ke Tunisia untuk melancarkan aksi jalan kaki dari Tunisia ke Aljazair, namun saat tiba di Bandara Chartage di Tunis pada pekan lalu, dia tidak diizinkan masuk ke negara tersebut.
Nekkaz menambahkan, meski telah berulang kali meminta untuk dipulangkan ke Aljazair, dia tetap dideportasi ke Prancis.
“Pihak berwenang bandara mengatakan bahwa Kedutaan Besar Aljazair di Tunisia berupaya agar saya tidak diterima masuk ke negara tersebut. Kementerian Luar Negeri Aljazair, melalui rekan-rekannya di Tunisia, mencoba mencegah saya berjalan kaki dari Tunisia ke Aljazair untuk Proyek Maghreb saya,” ungkap dia.
Nekkaz berencana untuk berjalan kaki dari Tunisia ke Aljazair untuk memperingati berdirinya Maghreb Union dengan inisiatif Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko dan Mauritania pada 17 Februari 1989.
Pihak berwenang Bandara Chartage dan keamanan Tunisia menolak memberikan pernyataan mengenai permasalahan tersebut kepada Anadolu Agency.
Pengusaha sekaligus aktivis asal Aljazair Rachid Nekkaz (46) lahir di Prancis. Selain karena perjuangannya melawan larangan cadar pemerintah Prancis, Nekkaz juga dikenal dengan dukungan finansial yang diberikan untuk perjuangan hukum wanita bercadar.
Nekkaz keluar dari kewarganegaraan Prancis pada tahun 2013 untuk mengikuti pemilihan presiden Aljazair, namun pendaftarannya ditolak oleh pemerintah Aljazair dengan alasan bahwa dia tidak mendapatkan tanda tangan yang cukup untuk pemilu 2014.
Nekkaz juga menarik perhatian dengan aksi-aksinya seperti berjalan kaki dari timur ke ibu kota Aljazair sejauh 600 kilometer pada 2013.