Servet Gunerigok
10 Maret 2025•Update: 10 Maret 2025
WASHINGTON
Melanjutkan kritiknya dari pertemuan panas di Ruang Oval bulan lalu, Presiden Donald Trump menuduh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengambil dana bantuan dari Amerika Serikat (AS) "seperti mengambil permen dari bayi" di bawah mantan Presiden Joe Biden.
"Dia mengambil uang dari negara ini, di bawah Biden, seperti permen dari bayi. Itu sangat mudah," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Minggu.
"Saya rasa dia tidak bersyukur. Kami memberinya USD350 miliar dan dia berbicara tentang fakta bahwa mereka telah berjuang dan mereka memiliki keberanian ini," imbuh Trump.
Presiden AS menegaskan kembali bahwa dialah yang memberinya senjata anti-tank Javelin ke Ukraina, dan bahwa perang di Ukraina tidak akan terjadi jika dia menjadi presiden pada tahun 2022, saat perang dimulai.
Mengenai bantuan AS dan Eropa untuk Ukraina, ia berkata: "Yang harus ia (Zelenskyy) lakukan hanyalah berkata (kepada Eropa), kalian harus tetap bertahan dengan kami (AS) ... Kami tidak dalam bahaya, mereka (Eropa) yang dalam bahaya ... Jadi mereka membayar semua uang ini ke Rusia, dan kami di sana dengan $350 miliar.”
Dalam beberapa minggu terakhir sejumlah pemimpin Eropa, termasuk dari Inggris dan Prancis, telah mengatakan kepada Trump bahwa angka bantuannya tidak benar, dan bahwa Eropa secara kolektif mengirimkan lebih banyak uang ke Ukraina daripada yang dilakukan AS.
Ketika ditanya apakah AS memperlakukan Ukraina dan Israel secara serupa terkait konflik yang mereka mulai, Trump mengatakan, "Keduanya adalah tempat yang sangat berbeda, oke, sangat, sangat berbeda. Anda berbicara tentang tingkat kekuatan yang berbeda."
Hubungan tegang antara Trump dan Zelenskyy meningkat bulan lalu ketika Trump menuduh Zelenskyy memperpanjang perang di Ukraina dan kurang berterima kasih atas bantuan AS.
Selama pertemuan yang memanas di Ruang Oval, Trump mengkritik Zelenskyy dan kemudian menangguhkan semua bantuan militer ke Ukraina, menekan Kyiv untuk bernegosiasi dengan Rusia.
Tindakan tersebut memicu reaksi keras dari sekutu Eropa sementara Rusia menyambut baik keputusan tersebut, yang semakin memperburuk hubungan AS-Ukraina.