Michael Hernandez
WASHINGTON
Pada 6 November, warga Amerika akan berkumpul di berbagai tempat pemungutan suara, guna memilih perwakilan mereka di tingkat gubernur, pejabat lokal dan anggota Kongres dalam pemilihan umum paruh waktu.
Yang dipertaruhkan dalam pemilu dua tahunan ini tak kurang adalah masa depan agenda legislatif Presiden AS Donald Trump.
Partai Republik saat ini menjadi mayoritas dengan selisih waktu satu kursi saja dari Partai Demokrat, dan meskipun jumlah suara mereka di Dewan Perwakilan lebih kuat, di majelis rendah ini pula posisi mereka paling terancam. Partai pengusung Trump ini tak boleh kalah bila ingin tetap menjadi mayoritas.
Seluruh kursi di Majelis Rendah akan diperebutkan di pemilu pada musim gugur ini, juga setidaknya sepertiga kursi Senat.
Apakah Trump akan terbukti terus menjadi pahlawan atau pecundang bagi Partai Republik masih belum jelas, terlebih dengan adanya prediksi adanya serangan besar-besaran untuk Partai Demokrat.
Sementara itu, Partai Demokrat mencari cara untuk menggunakan ketidakpuasan beberapa segmen masyarakat Amerika karena keberhasilan Trump menguasai Gedung Putih pada 2016, terutama mereka yang risi dengan kehidupan pribadinya, kebijakan-kebijakan kontroversialnya -- terutama kegagalan imigrasi dan usahanya untuk mengembalikan undang-undang soal jaminan kesehatan AS -- serta pendekatannya yang tidak lazim sebagai presiden Amerika.
Dengan hanya lima pekan sampai warga Amerika memberikan suara, sejumlah besar pemilik hak pilih berkata partai mana yang akan menguasai Kongres akan menjadi faktor bagaimana mereka memilih, menurut lembaga penelitian Pew Research Center.
Nyaris tiga per empat pemilih yang telah terdaftar berkata ini menjadi pertimbangan penting, sementara setidaknya 60 persen berkata pandangan mereka terhadap Trump -- baik atau buruk -- akan berpengaruh pada bagaimana mereka memberikan suara.
Mayoritas pemilih di kategori di atas -- 37 persen -- berkata mereka akan memilih "menentang" Trump, sementara 23 persen akan memilih "untuk" dia, menurut Pew.
Lembaga survei ini juga menemukan bahwa pendukung Partai Demokrat lebih antusias memberikan suara ketimbang pendukung Partai Republik, dengan 52 persen pemilih terdaftar berkata akan memberi suara untuk atau condong kepada kandidat dari Partai Demokrat di distrik mereka. Hanya 42 persen pemilih terdaftar yang menyatakan hal serupa tentang Partai Republik.
Secara total, 35 kursi akan diperebutkan di Senat -- 33 di antaranya diperebutkan di bawah perundangan normal Senat, sementara dua di antaranya kosong karena kandidat petahana meninggalkan kursinya. Normalnya, sepertiga kursi, atau sekitar 33, diperebutkan setiap dua tahun sekali.
Pemilihan paruh waktu tahun ini memperlihatkan beberapa hasil yang nyaris seimbang, termasuk di Texas, di mana petahana Senator Ted Cruz diperkirakan akan menghadapi pertarungan sepadan dari Perwakilan Partai Demokrat Beto O'Rourke, dan di Arizona, di mana petahana dari Partai Republik Jeff Flake baru saja pensiun. Partai Demokrat berharap bisa memenangi kursi di kedua daerah ini.
Real Clear Politics, laman web agregator survei, menghitung ada sembilan kursi yang bisa berpindah dari majelis beranggotakan 100 orang ini, dengan empat kursi di antaranya dikuasai oleh Partai Republik atau, dalam kasus Senator Bob Coker di daerah Flake dan Tennessee, sebelumnya diduduki oleh Partai Republik.
Partai Demokrat, sebaliknya, memiliki lima kursi yang dianggap bahaya dan bisa direbut Partai Republik.
Ini berarti Partai Republik telah mengamankan 48 kursi Senat, baik karena beberapa di antaranya tak diperebutkan dalam pemilu atau karena Partai Demokrat hampir tak mungkin memenangi kursi tersebut. Sementara itu, Partai Demokrat mengamankan 43 kursi.
Dua anggota Independen kaukus yang berada bersama Partai Demokrat diramalkan tetap mengamankan kursinya.
Dalam Majelis yang beranggotakan 435 orang, meski begitu, kemungkinan Partai Republik mempertahankan suara mayoritas sangat diragukan.
Kedua partai harus meraih 218 kursi mayoritas untuk menguasai majelis, tantangan yang sepertinya tidak akan bisa diatasi oleh Partai Republik.
Partai Republik saat ini memegang 43 kursi lebih banyak di Majelis, namun menghadapi masalah serius pada 38 kursi yang mereka kuasai. Hanya dua kursi dalam persaingan ketat itu yang diduduki oleh petahana dari Partai Demokrat.
Sebagai tambahan, dari 40 persaingan itu, Partai Demokrat sepertinya akan merebut tiga kursi dari Partai Republik dan 11 tambahan kursi Partai Republik yang kandidatnya kini condong kepada Demokrat.
Bila Partai Demokrat berhasil menguasai salah satu majelis saja, keadaan ini akan membuat Presiden kesal, karena Trump telah bertekad untuk menyelesaikan masa jabatan empat tahunnya dengan kemenangan legislatif besar.
Partai Demokrat telah dengan kukuh menentang banyak kebijakan besar Trump, terutama tuntutannya untuk membangun dinding di sepanjang perbatasan selatan AS dengan Meksiko dan pembatalan sepenuhnya kebijakan jaminan kesehatan mantan Presiden Barack Obama.
Bila Partai Demokrat menguasai salah satu, atau kemungkinan kedua majelis, Trump akan terpaksa berdamai dengan tuntutan legislatif yang bukan lagi berada di tangan para sekutunya.
Ini tentu akan mempersulit keinginannya untuk mewujudkan beberapa tujuan yang selama dua tahun ini belum berhasil diwujudkannya selama dua tahun menjabat. Bila Partai Republik kehilangan mayoritas di Senat, presiden juga harus mempertimbangkan nominasinya di posisi lembaga-lembaga federal, yang terpenting, posisi di Mahkamah Agung.
Trump sejauh ini telah berhasil menominasikan satu orang hakim konservatif di pengadilan tinggi, dengan nominasi hakim kedua tengah sibuk dengan tuduhan-tuduhan pelecehan seksual. Sekarang, masih tidak jelas apakah Brett Kavanaugh akan menerima persetujuan Senat.
Selain memilih legislator federal, warga Amerika akan menggunakan suaranya untuk memilih belasan pejabat setingkat gubernur, sejumlah pejabat lokal dan referendum lain.
Di seluruh negeri, sekitar 40 Muslim-Amerika bertarung dalam berbagai pemilihan umum lokal dan federal, menurut Jetpac, sebuah lembaga nirlaba yang bekerja untuk meningkatkan keterlibatan politik pada masyarakat Muslim-Amerika.
Sekitar 70 lainnya telah kalah atau membatalkan pencalonan mereka, kata Eksekutif Direktur Jetpac Shaun Kennedy kepada Anadolu Agency.
Dari semua kandidat Muslim-Amerika yang masih bertarung dalam pemilu, lima mengincar kursi Dewan Perwakilan Rakyat, tujuh bersaing untuk posisi county, 14 memperebutkan kursi legislasi negara bagian, 11 untuk pos-pos setingkat kotamadya, dua di kursi pengadilan, dan satu -- Keith Ellison -- untuk posisi di seluruh negara bagian.
"Ini adalah tingkat kepesertaan tertinggi sejak 2000," ketika 700 Muslim-Amerika mengikuti pemilu dan 153 di antaranya menang, kata Kennedy.
news_share_descriptionsubscription_contact
