Oliver Towfigh Nia
25 Januari 2023•Update: 27 Januari 2023
BERLIN
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Rabu mengutuk ancaman nuklir Rusia setelah pernyataan mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang memperingatkan aliansi militer barat itu bahwa kekalahan Moskow di Ukraina dapat memicu perang nuklir.
“Risiko penggunaan senjata nuklir rendah. Tapi retorika nuklir Rusia sama sekali tidak bertanggung jawab. Itu berbahaya. Rusia harus tahu bahwa perang nuklir tidak akan pernah bisa dimenangkan dan karenanya tidak boleh terjadi,” kata Stoltenberg dalam wawancara dengan harian WELT.
“Tentu saja, kami mengamati dengan cermat apa yang dilakukan Rusia. Jika itu masalahnya, kami tentu saja akan bereaksi. Tetapi bahkan jika kita membiarkan Rusia memeras kita dengan retorika ini, dunia akan menjadi lebih berbahaya. Kemudian Rusia akan terus memunculkan ancaman nuklir ini ketika ingin mencapai sesuatu,” tambah dia.
Sejak Rusia menginvasi Ukraina hampir setahun lalu pada 24 Februari, Medvedev berulang kali mengangkat ancaman serangan nuklir.
"Kekalahan kekuatan nuklir dalam perang konvensional dapat memicu perang nuklir," kata Medvedev, yang menjabat sebagai wakil ketua dewan keamanan Putin, dalam sebuah posting-an di Telegram.
“Kekuatan nuklir tidak pernah kalah dalam konflik besar yang menjadi sandaran nasib mereka,” kata Medvedev, yang menjabat sebagai presiden dari 2008 hingga 2012.
Kremlin dengan cepat mendukung pernyataan Medvedev, dengan mengatakan bahwa pernyataan tersebut sepenuhnya sesuai dengan prinsip Moskow.
Doktrin Moskow mengizinkan serangan nuklir setelah “agresi terhadap Federasi Rusia dengan senjata konvensional ketika keberadaan negara terancam.”