Muhammad Abdullah Azzam
16 Oktober 2019•Update: 17 Oktober 2019
Talha Öztürk, Lejla Bıogradlıja
BEOGRAD
Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop mengungkapkan Operasi Mata Air Perdamaian berjalan sesuai rencana dengan menghantam target-target teror.
Sentop berjumpa dengan Presiden Dewan Federasi Rusia Valentina Matviyenko di sela Sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-141 yang berlangsung pada 13-17 Oktober 2019 yang berlangsung di Beograd, Serbia.
Dalam pertemuan di Forum Parlemen Internasional itu Sentop dan Matviyenko membahas isu bilateral serta menekankan kerja sama yang erat antar kedua negara.
Berbicara setelah pertemuan itu, Ketua Parlemen Turki Sentop mengungkapkan apresiasi pada Rusia yang tidak mendukung langkah "mengecam" Operasi Mata Air Perdamaian yang yang diprakarsai oleh Prancis.
"Turki melindungi integritas teritorial Suriah dan berusaha untuk mempertahankan itu," tutur Sentop.
Sentop menekankan operasi anti-teroris Turki itu penting untuk perdamaian dan ketenangan di kawasan Suriah utara.
“Operasi Mata Air Perdamaian berjalan sesuai yang direncanakan,” ujar dia.
“Saya memprediksi operasi itu akan selesai dalam waktu singkat sesuai dengan tujuannya," ungkap Ketua Parlemen.
Sementara Matviyenko juga menyatakan dukungan Rusia terhadap Turki.
"Tak ada yang (berani) mengatakan Turki sedang tak memerangi terorisme. Turki menjadi tuan rumah bagi jutaan pengungsi dari negara yang berbatasan dengannya,” tutur Matviyenko.
“Mereka yang datang dari ribuan kilometer tak dapat mengetahui dinamika wilayah tersebut. Kami berdiri menentang usulan agenda mendesak dari Perancis tersebut karena kami melihat pendirian Turki itu benar," tutur Ketua Dewan Federasi Rusia itu.
Inggris, Jerman, Swiss, Mesir dan beberapa negara lainnya mengajukan sebuah agenda yang mendesak untuk mengutuk operasi anti-terorisme Turki di dalam sidang kerja sama antar-parlemen itu.
Mereka ingin mendesak Turki untuk menghentikan operasi militer di Suriah utara.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Turki segera menyiapkan sebuah rancangan resolusi yang berjudul “Standar Ganda Negara Barat terhadap solusi masalah Suriah dan Upaya Anti-Terorisme".
Sentop langsung berkomunikasi dengan para ketua delegasi untuk mengurangi dukungan terhadap usulan Perancis itu serta mencoba untuk membuat blok baru yang akan menggagalkan usulan pengecaman tersebut.