Elena Teslova
16 April 2021•Update: 18 April 2021
MOSKOW
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis memanggil duta besar Amerika Serikat (AS) di Moskow kurang dari satu jam setelah otoritas Biden mengumumkan sanksi baru terhadap negara itu.
Berbicara pada konferensi pers di Moskow, juru bicara Kemlu Rusia Maria Zakharova mengatakan akan ada pembicaraan "sulit" bagi duta besar AS dan Rusia akan memberikan "penolakan yang tegas" kepada "perilaku agresif" AS.
"Kami telah berulang kali memperingatkan AS tentang konsekuensi dari langkah-langkah permusuhan yang secara berbahaya meningkatkan ketegangan antar negara kami. Hal tersebut tidak memenuhi kepentingan rakyat dari dua kekuatan nuklir yang memikul tanggung jawab historis atas nasib dunia," Kata Zakharova.
Dia juga mencatat bahwa Presiden AS Joe Biden telah menyatakan niatnya untuk menormalisasikan hubungan antara Washington dan Moskow pada percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Namun, kebijakan pemerintahannya menunjukkan perilaku sebaliknya, ungkap Zakharova.
"AS tidak siap untuk menerima kenyataan obyektif dari dunia multipolar yang mengecualikan hegemoni Amerika dan bergantung pada tekanan sanksi dan campur tangan dalam urusan internal kita,” tegas dia.
"Perilaku agresif seperti itu pasti akan menerima penolakan yang tegas. Tanggapan terhadap sanksi tidak terhindarkan. Washington harus menyadari bahwa kemerosotan hubungan bilateral ada harganya. Tanggung jawab atas apa yang terjadi sepenuhnya ada pada AS," ujar Zakharova.
Sebelumnya pada hari itu, Washington mengumumkan sanksi baru terhadap Moskow - dua hari setelah pejabat AS menyarankan agar para pemimpin kedua negara dapat mengadakan pertemuan.
Sanksi baru juga termasuk pengusiran 10 diplomat yang bekerja di Kedutaan Besar Rusia di Washington, larangan bagi perusahaan AS untuk secara langsung memperoleh obligasi Rusia yang diterbitkan setelah 14 Juni 2021 oleh Bank Sentral negara, Dana Kesejahteraan Nasional atau Kementerian Keuangan.
Enam belas individu dan 16 organisasi dikenakan sanksi dengan tindakan pembatasan atas dugaan campur tangan mereka dalam pemilihan presiden AS.
Sanksi atas tuduhan tambahan yang mengklaim bahwa Rusia mendorong serangan Taliban terhadap tentara AS di Afghanistan "ditangani melalui saluran diplomatik, militer dan intelijen," karena "sensitivitas masalah ini," menurut pernyataan yang diterbitkan oleh Gedung Putih.