Elena Teslova
23 Desember 2021•Update: 24 Desember 2021
MOSKOW
Semua pihak perlu memahami bahwa cepat atau lambat Amerika Serikat (AS) akan meninggalkan Suriah karena kehadirannya di sana lebih banyak menimbulkan masalah daripada keuntungan, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Rabu.
Dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Rusia RT news, Lavrov mengatakan AS tahu mereka tidak nyaman di Suriah, dan mereka gelisah.
“Tujuan mereka yang sebenarnya cukup jelas. Amerika tidak banyak menyembunyikannya ketika mereka menguasai hidrokarbon, deposit di tepi timur sungai Eufrat, dan lahan pertanian, dan mulai memupuk separatisme Kurdi di sana dengan segala cara yang mungkin; semua orang tahu itu,” tutur dia.
“Selain itu, wilayah yang mereka pengaruhi merupakan tempat tinggal tradisional suku-suku Arab. Itu juga tidak meningkatkan kerukunan dan tidak menambah pengaruh Amerika di Suriah, termasuk faktor Kurdi dan memperhitungkan hubungan antara Kurdi dan Arab,” sebut menlu Rusia.
Memperhatikan ketidaknyamanan Turki atas keberadaan YPG/PKK, sebuah organisasi teroris yang bekerja sama dengan AS di Suriah, Lavrov meminta kelompok Kurdi Suriah untuk membuat keputusan yang jelas tentang dialog dengan Damaskus.
Dia mengungkapkan situasi berubah setelah pernyataan mantan Presiden Donald Trump tentang kemungkinan penarikan pasukan AS.
"Pada tahap tertentu, Donald Trump berkata: 'Kami akan pergi, kami tidak ada hubungannya di Suriah.' Segera, orang-orang Kurdi mulai meminta orang-orang, termasuk kami, untuk berdialog dengan Damaskus," ujar dia.
“Beberapa hari kemudian, pernyataan Trump ditolak dan seseorang di Pentagon berkata: ‘Tidak, kami belum pergi.’ Kurdi segera kehilangan minat untuk berdialog dengan otoritas Suriah.”
Mengomentari kunjungan kontroversial ke Moskow oleh llham Ahmed, seorang pemimpin Dewan Demokratik Suriah yang berafiliasi dengan PKK, Lavrov menggarisbawahi bahwa Rusia berkomitmen untuk melindungi integritas teritorial Suriah.
“Kami telah menjelaskan kepada rekan-rekan Turki kami bahwa kami sama sekali tidak ingin memicu tren negatif apa pun untuk Turki,” tegas menteri Rusia itu.
Selama AS tetap berada di Suriah, Rusia dan militer Amerika akan mempertahankan “dialog efektif” untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan dan memfasilitasi proses rekonsiliasi politik antara warga Suriah, tambah Lavrov.